Fenomena Kegagalan Konversi Sistem di Suatu Organisasi

Konversi sistem merupakan tahapan yang digunakan untuk mengoperasikan sistem baru dalam rangka menggantikan sistem lama atau proses pengubahan dari sistem lama ke sistem baru. Derajat kesulitan dan kompleksitas dalam pengkoversian dari sistem lama ke baru tergantung pada sejumlah faktor. Jika sistem baru merupakan paket perangkat lunak terbungkus (canned) yang akan berjalan pada komputernya yang baru, maka konversi akan relatif lebih mudah. Sementara jika konversi memanfaatkan perangkat lunak terkustomisasi baru, database baru, perangkat komputer dan perangkat lunak kendali baru, jaringan baru dan perubahan drastis dalam prosedurnya, maka konversi menjadi agak sulit dan menantang.

Sering kali organisasi melakukan kesalahan dalam melakukan pengalihan dari suatu sistem lama ke sistem baru (konversi sistem), dan hal ini tentunya dapat berakibat fatal bagi organisasi. Fenomena ini terjadi karena dengan adanya perubahan dari sistem lama ke sistem baru maka akan terjadi keadaan dimana karyawan menghadapi masa transisi, yaitu keharusan menjalani adaptasi yang dapat berupa adaptasi teknikal (skill, kompetensi, proses kerja), kultural (perilaku, mind set, komitment) dan politikal (munculnya isu efisiensi karyawan/PHK, sponsorship/dukungan top management). Dengan adanya ketiga hal ini maka terjadi saling tuding di dalam organisasi, dimana manajemen puncak menyalahkan bawahan yang bertanggung jawab, konsultan, vendor bahkan terkadang peranti teknologi informasi itu sendiri.

Penyebab kegagalan ini juga dapat berasal dari tiga stakeholder utama organisasi/perusahaan, yaitu manajemen, vendor dan user. Kurangnya dukungan dan komitmen dari pimpinan puncak dan manajemen perusahaan, sehingga inisiatif sistem baru yang digulirkan berjalan dengan tersendat-sendat menyebabkan terjadinya kegagalan konversi sistem. Selain itu, perencanaan yang disusun oleh pihak manajemen buruk, sehingga ketika ingin dieksekusi mengalami banyak hambatan dan kesulitan. Faktor kegagalan konversi sistem yang disebabkan oleh vendor adalah kurangnya pengalaman dari vendor maupun orang yang ditugaskan untuk mengimplementasikan sistem baru tersebut terutama untuk ruang lingkup penugasan serupa di industri yang sejenis. Vendor terkadang juga melakukan kesalahan dalam usaha membantu manajemen dalam mendefinisikan kebutuhannya, sehingga ketika sistem baru tersebut diterapkan, tidak memberikan hasil sebagaimana yang diharapkan oleh para stakeholder terkait. Sementara dari pihak user, diketahui bahwa kegagalan konversi sistem umumnya disebabkan oleh ketidakinginan user untuk merubah cara kerja dalam beraktivitas sehari-hari, sehingga selalu menentang segala bentuk aplikasi sistem baru tersebut, yang pada dasarnya membutuhkan keinginan dan kemampuan untuk bekerja dengan cara yang lebih efektif dan efisien.

Tinggi rendahnya resiko keberhasilan proses konversi sistem informasi sangat dipengaruhi oleh lima aspek, yaitu aspek data, aspek aplikasi, aspek teknologi, aspek manusia, dan aspek kebijakan. Untuk memperkecil resiko yang ada, maka perlu dilakukan beberapa langkah sebagai berikut.

  1. Lihat kembali dan koreksi visi yang ingin di bangun, pelajari implementasi apa yang belum maksimal dan latih sumber daya manusia agar mampu mengoptimalkan peranti yang sudah dibeli. Hal ini hanya akan mungkin untuk dilaksanakan apabila pimpinan perusahaan mengetahui tentang teknologi informasi, sehingga lebih paham apa yang ingin dicapai perusahaannya dengan mengaplikasikan teknologi informasi ini.
  2. Harus menciptakan sinergisme diantara subsistem-subsistem yang mendukung pengoperasian sistem, sehingga akan terjadi kerjasama secara terintegrasi diantara subsistem-subsistem ini. Biasanya para perancang sistem ini akan mulai pada tingkat perusahaan, selanjutnya turun ke tingkat-tingkat sistem.
  3. Para perancang sistem informasi harus menyadari bagaimana rasa takut di pihak pegawai maupun manajer dapat mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan proyek pengembangan dan sistem operasional. Manajemen perusahaan, dibantu oleh spesialis informasi, dapat mengurangi ketakutan ini dan dampaknya yang merugikan dengan mengambil empat langkah, yaitu: 1) menggunakan komputer sebagai suatu cara mencapai peningkatan pekerjaan (job enhancement); 2) Menggunakan komunikasi awal untuk membuat pegawai terus menyadari maksud perusahaan; 3) Membangun hubungan kepercayaan antara pegawai, spesialisasi informasi dan manajemen; dan 4) Menyelaraskan kebutuhan pegawai dengan tujuan perusahaan.
  4. Agar kesalahan konversi sistem lama ke sistem baru tidak terjadi, maka: sistem yang dikembangkan harus  sesuai dengan kebutuhan dan keinginan user; user training diberikan secara lengkap, terpadu, mudah dipahami oleh end user dan harus menarik; komputerisasi perlu dibarengi dengan bussiness reengineering process agar terjadi efisisiensi dan efektivitas operasi dalam perusahaan; dan conversion method harus ditetapkan sedemikan rupa agar tidak menyulitkan bagi user di lapangan.

Metode konversi dapat mempermudah pengenalan teknologi informasi yang baru ke dalam organisasi. Terdapat  empat metode konversi sistem, yaitu sebagai berikut.

1.       Konversi Langsung (Direct Conversion)

Konversi langsung merupakan pengimplementasian sistem baru dan pemutusan jembatan sistem lama, yang biasa disebut pendekatan cold turkey. Cara ini merupakan yang paling beresiko, tetapi murah. Apabila konversi telah dilakukan, maka tidak ada cara untuk kembali ke sistem lama. Asumsi dari penggunaan sistem ini diantaranya:

  • Data sistem yang lama bisa digantikan sistem yang baru;
  • Sistem yang lama sepenuhnya tidak bernilai;
  • Sistem yang barn bersifat kecil atau sederhana atau keduanya; dan
  • Rancangan sistem baru sangat berbeda dari sistem lama, dan perbandingan antara sistem-sistem tersebut tidak berarti.

2.       Konversi Paralel (Parallel Conversion)

Konversi paralel adalah suatu pendekatan dimana baik sistem lama dan baru beroperasi secara serentak untuk beberapa période waktu. Setelah melalui masa tertentu, jika sistem baru telah bisa diterima untuk menggantikan sistem lama, maka sistem lama segera dihentikan. Output dari masing-masing sistem tersebut dibandingkan dan perbedaanya direkonsiliasi. Sistem ini paling aman digunakan, namun membutuhkan biaya yang paling mahal. Besarnya biaya digunakan untuk penduplikasian fasilitas-fasilitas dan biaya personel yang memelihara sistem rangkap tersebut.

3.       Konversi Bertahap (Phase-In Conversion)

Konversi dilakukan dengan menggantikan suatu bagian dari sistem lama dengan sistem baru. Jika terjadi sesuatu, bagian yang baru tersebut akan diganti kembali dengan yang lama. Jika tak terjadi masalah, modul-modul baru akan dipasangkan lagi untuk mengganti modul-modul lama yang lain. Metode konversi bertahap menghindarkan dari resiko yang ditimbulkan oleh konversi langsung dan memberikan waktu yang banyak kepada pemakai untuk mengasimilasi perubahan. Sistem harus disegmentasi sebelum menggunakan metode phase-in.

Kelebihan dari sistem konversi ini adalah kecepatan perubahan dalam organisasi tertentu bisa diminimasi, dan sumber-sumber pemrosesan data dapat diperoleh sedikit demi sedikit selama période waktu yang luas. Sementara, kelemahannya, antara lain adanya keperluan biaya yang harus diadakan untuk mengembangkan interface temporer dengan sistem lama, daya terapnya terbatas, dan terjadi kemunduran semangat di organisasi, sebab orang-orang tidak pernah merasa menyelesaikan sistem.

4.       Konversi Pilot (Pilot Conversion)

Pendekatan ini dilakukan dengan menerapkan sistem baru hanya pada lokasi tertentu yang diperlakukan sebagai pelopor. Jika konversi ini dianggap berhasil, maka akan diperluas ke tempat-tempat yang lain. Ini merupakan pendekatan dengan biaya dan risiko yang rendah. Dengan metode Konversi Pilot, hanya sebagian dari organisasi yang mencoba mengembangkan sistem baru. Kalau metode phase-in mensegmentasi sistem, metode pilot mensegmentasi organisasi.

Daftar Pustaka

Riyanti. 2010. Konversi sistem. http://riyanti.staff.gunadarma.ac.id. [25 Desember 2010]

Suhendi. 2010. Konversi sistem dalam teknologi informasi dan fenomenanya. http://suhendi.blogstudent.mb.ipb.ac.id. [25 Desember 2010]

Keuntungan dan Kelemahan Pengembangan Sistem Informasi Secara Outsourcing Dibandingkan dengan Insourcing

Sistem informasi menyebabkan terjadinya perubahan yang cukup signifikan dalam pola pengambilan keputusan yang dilakukan oleh manajemen, baik pada tingkat operasional (pelaksana teknis) maupun pimpinan. Terdapat beberapa pendekatan yang bisa dilakukan oleh suatu organisasi dalam membangun dan mengelola sistem informasi, yakni insourcing, cosourcing dan outsourcing. Namun, keterbatasan sumber daya yang dimiliki perusahaan untuk membangun dan mengelola sistem informasi menyebabkan maraknya penggunaan jasa outsourcing atau pihak ketiga (vendor) dalam membangun dan mengelola sistem informasi.

Outsourcing adalah penggunaan pihak ketiga (vendor) untuk membangun dan mengembangkan suatu paket sistem informsi yang dibutuhkan oleh perusahaan. Pihak perusahaan cukup membeli beberapa paket sistem aplikasi yang siap pakai, karena paket aplikasi tersebut dibuat oleh vendor yang ahli di bidang sistem aplikasi. Seperti yang kita ketahui adalah menyerahkan sebagian pekerjaan kepada pihak. Beberapa alasan strategis utama suatu perusahaan melakukan outsourcing adalah sebagai berikut.

  • Meningkatkan fokus bisnis, sehingga dengan outsourcing maka perusahaan bisa lebih fokus pada bisnis utamanya dan membiarkan sebagian operasionalnya dikerjakan oleh pihak lain.
  • Membagi resiko operasional, sehingga dengan outsourcing maka risiko operasional perusahaan bisa terbagi kepada pihak lain.
  • Sumber daya perusahaan yang ada bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan yang lainnya, sehingga dengan melakukan outsourcing, staf yang ada bisa dimanfaatkan untuk  kebutuhan yang lebih strategis atau yang lain.

Terdapat dua jenis pendekatan outsourcing, yaitu dengan menggunakan paying agent (labor supply) dan full agent (full outsource). Pendekatan yang lebih banyak dipraktekkan di Indonesia adalah paying agent. Artinya, perusahaan outsource hanya menyediakan tenaga kerja dan mengurusi sumber daya manusia serta administrasinya saja, sementara tempat, pengawas dan semua lat produksi berada di perusahaan pengguna.

Meskipun penggunaan outsourcing seringkali digunakan sebagai strategi kompetisi perusahaan untuk fokus pada core business-nya. Namun, pada prakteknya outsourcing didorong oleh keinginan perusahaan untuk menekan cost hingga serendah-rendahnya dan mendapatkan keuntungan berlipat ganda walaupun seringkali melanggar etika bisnis.

Penelitian yang dilakukan oleh Divisi Riset PPM Manajemen terhadap 44 perusahaan dari berbagai industri, 73 persen perusahaan di Indonesia menggunakan jasa outsourcing. Dari 73 persen perusahaan yang menggunakan jasa outsource terdapat lima alasan menggunakan outsourcing, yaitu agar perusahaan dapat fokus terhadap core business (33,75%), untuk menghemat biaya operasional (28,75%), turn over karyawan menjadi rendah (15%), modernisasi dunia usaha dan lainnya masing-masing sebesar 11,25%.

Melalui studi para ahli manajemen yang dilakukan sejak tahun 1991, Outsourcing Institute mengumpulkan sejumlah alasan mengapa perusahaan melakukan outsourcing terhadap aktivitasnya dan potensi keuntungan yang diharapkan diperoleh darinya (O’Brien, 2005). Keuntungan tersebut antara lain sebagai berikut.

1.      Fokus pada kompetensi utama

Dengan menggunakan outsourcing, perusahaan dapat memusatkan diri pada masalah dan startegi utama dan umum, sementara pelaksanaan tugas sehari-hari dengan tingkat kepentingan yang kecil diserahkan pada pihak ketiga, sehingga perusahaan mampu meningkatkan kompetensi utamanya.

2.      Penghematan dan pengendalian biaya operasional

Outsourcing memungkinkan untuk mengurangi dan mengendalikan biaya operasi. Pengurangan biaya ini dapat diperoleh dari  mitra outsource melalui berbagai hal, misalnya spesialisasi, struktur pembiayaan yang lebih rendah, economics of scale besar. Perusahaan yang mengelola SDM-nya sendiri akan memiliki struktur pembiayaan yang lebih besar daripada perusahaan yang menyerahkan pengelolaan SDM-nya pada vendor outsourcing.

3.      Memanfaatkan kompetensi vendor outsourcing

Karena kompetensi utamanya dibidang jasa penyediaan dan pengelolaan SDM, vendor outsourcing memiliki sumber daya dan kemampuan yang lebih baik dibidang ini dibandingkan dengan perusahaan. Saat menjalin kerjasama dengan vendor outsourcing yang profesional, perusahaan akan mendapatkan keuntungan dengan memanfaatkan keahlian vendor outsourcing dalam menyediakan dan mengelola SDM yang dibutuhkan oleh perusahaan.

4.      Mengurangi resiko

Outsourcing memungkinkan suatu pembagian suatu pembagian resiko, yang akan memperingan dan memperkecil resiko perusahaan. Apabila semua investasi dilakukan sendiri maka seluruh resiko juga ditanggung sendiri, sementara apabila beberapa aktivitas perusahaan dikontrakkan pada pihak ketiga maka resiko akan ditanggung bersama pula.

5.      Perusahaan menjadi lebih langsing dan gesit dalam merespon pasar

Setiap perusahaan pasti memiliki keterbatasan sumber daya. Dengan melakukan outsourcing, perusahaan dapat mengalihkan sumber daya yang terbatas ini dari pekerjaan-pekerjaan yang bersifat non-core dan tidak berpengaruh langung terhadap pendapatan dan keuntungan perusahaan kepada pekerjaan-pekerjaan strategis core-business yang pada akhirnya dapat meningkatkan kepuasan pelanggan, pendapatan dan keuntungan perusahaan.

6.      Meningkatkan efisiensi pada pekerjaan yang bersifat non-core

Perusahaan umumnya memutuskan untuk mengalihkan setidaknya satu pekerjaan non-core dengan berbagai alasan. Perusahaan menyadari bahwa merekrut dan mengkontrak karyawan, menghitung dan membayar gaji, lembur dan tunjangan-tunjangan, memberikan pelatihan, administrasi umum serta memastikan semua proses berjalan sesuai dengan peraturan perundangan adalah pekerjaan yang rumit, banyak membuang waktu, pikiran dan dana yang cukup besar.

7.      Mempercepat keuntungan yang diperoleh dari re-engineering.

Outsourcing menjadi salah satu cara dalam re-engineering untuk mendapatkan manfaat sekarang dengan cara menyerahkan tugas pada pihak ketiga yang sudah melakukan re-engineering dan menjadi unggul atas aktivitas-aktivitas tertentu.

8.      Sumber daya sendiri dapat digunakan untuk kebutuhan lain

Outsourcing memungkinkan perusahaan untuk menggunakan sumber daya yang dimiliki secara terbatas tersebut untuk bidang-bidang kegiatan utama, sementara hal-hal kecil dapat dialihkan untuk menangani hal-hal ekstrim.

9.      Meningkatkan tersedianya dana kapital

Outsourcing juga bermanfaat untuk mengurangi investasi dana kapital kegiatan non-core. Sebagai ganti dari melakukan investasi di bidang kegiatan tersebut, lebih baik mengontrakkan sesuai dengan kebutuhan yang dibiayai dengan dana operasi, bukan dana investasi.

10.  Menciptakan dana segar

Outsourcing sering kali dapat dilakukan tidak hanya mengontrakkan aktivitas tertentu pada pihak ketiga, tetapi juga disertai dengan penyerahan (penjualan/penyewaan) aset yang digunakan untuk melakukan aktivitas tersebut, dengan demikian dana segar akan masuk ke dalam perusahaan.

11.  Memperoleh sumber daya yang tidak dimiliki sendiri

Perusahaan dapat melakukan outsourcing untuk suatu aktivitas tertentu karena perusahaan tidak memiliki sumber daya yang dibutuhkan untuk melakukan aktivitas tersebut secara baik dan memadai.

12.  Memecahkan masalah yang sulit dikendalikan atau dikelola

Outsourcing dapat juga digunakan untuk mengatasi pengelolaan hal atau mengawasi fungsi yang sulit dikendalikan, seperti birokrasi ekstern yang sangat berbelit.

13.  Mengurangi waktu proses

Beberapa outsourcer dapat dipilih untuk bekerja bersama-sama menyediakan jasa ini kepada perusahaan. Jasa yang diberikan oleh outsourcer lebih berkualitas dibandingkan dikerjakan sendiri secara internal, outsourcer memang dispesialisasi dan ahli di bidang tersebut.

Outsourcing sendiri pada prakteknya tidak berarti memiliki resiko sama sekali. Resiko yang terjadi hanya bisa diminimalisir, sehingga penting bagi perusahaan untuk melakukan self assesment terhadap kondisi perusahaannya. Baik keuangan, kesiapan hingga perencanaan jangka panjang kedepan. Adapun beberapa kelemahan dalam melakukan outsourcing adalah sebagai berikut.

1.      Permasalahan pada moral karyawan. Pada kasus yang sering terjadi, karyawan outsource yang dikirim ke perusahaan akan mengalami persoalan yang penanganannya lebih sulit dibandingkan karyawan tetap. Misalnya karena karyawan outsource merasa dirinya bukan bagian dari perusahaan pengguna.

2.      Kurangnya kontrol perusahaan pengguna dan terkunci oleh penyedia outsourcing melalui perjanjian kontrak. Ketika ditengah jalan outsourcer tidak dapat melanjutkan proyek tersebut, maka perusahaan akan menderita kerugian yang berdampak sangat buruk bagi kelangsungan bisnis perusahaan. Selain itu, perusahaan akan kehilangan kendali terhadap sistem dan data, karena bisa saja outsourcer menjual data ke pesaing dan hal ini akan merugikan perusahaan dibandingkan jika melakukan insourcing atau pengembangan sistem informasi dilakukan oleh pihak perusahaan. Oleh karena itu, kontrak juga harus menjelaskan tentang batasan-batasan kerahasiaan informasi yang perusahaan berikan kepada outsourcer.

3.      Kurang baiknya cara mengkomunikasikan rencana outsourcing kepada seluruh karyawan menyebabkan munculnya rumor dan resistensi dari karyawan yang dapat mengganggu kelancaran proyek outsourcing. Resistensi ini muncul karena adanya kekhawatiran akan terjadinya PHK, terjadinya perubahan dalam gaya manajemen dan kekhawatiran kinerja vendor ternyata tidak sebaik saat dikerjakan sendiri oleh perusahaan. Hal ini menimbulkan jurang antara karyawan tetap dan karyawan outsource.

4.      Ketergantungan dengan perusahaan lain, yaitu perusahaan pengembang sistem informasi akan terbentuk. Perusahaan akan mengalami kesulitan untuk mengambil alih kembali sistem yang sedang berjalan, jika menyerahkan sepenuhnya kepada outsourcer tanpa ada kontrol atau peran serta pihak internal perusahaan dalam pengembangan dan penerapan sistem informasi di perusahaannya.

5.      Biaya lebih mahal dibandingkan dengan mengembangkan sistem informasi sendiri. Hal ini disebabkan oleh adanya hidden cost, yaitu pencarian biaya vendor, biaya transisi, dan biaya post outsourcing.

Pendekatan insourcing merupakan kebalikan dari outsourcing. Perusahaan yang menggunakan sistem insourcing akan merancang atau membuat sendiri sistem informasi yang dibutuhkan dan menentukan pelaksana sistem informasi. Di dalam insourcing, suatu perusahaan akan melaksanakan fungsi organisasi pihak lain, dengan memanfaatkan sumber daya (resource) dan potensi yang dimilikinya, sehingga ada aliansi strategi baru. Perusahaan akan menggunakan sistem ini jika memiliki sumber daya yang memadai dan menginginkan pengawasan yang lebih terkontrol dibandingkan dengan outsource ke pihak lain. Keuntungan pengembangan sistem informasi secara outsourcing dibandingkan dengan insourcing, yaitu sebagai berikut.

1.      Skalabilitas dan Kemampuan Beradaptasi

Membangun dan memelihara infrastruktur IT membutuhkan banyak waktu. Sektor IT menjadi lebih kompetitif, sehingga mengambil terlalu banyak waktu untuk penerapan satu teknologi akan sangat berisiko. IT outsourcing memungkinkan percepatan adaptasi dan transformasi bisnis perusahaan terhadap perubahan pasar atau ancaman para pesaing.

2.      Penghematan Biaya (Cost Saving)

Kecenderungan kegiatan bisnis yang saat ini terlihat jelas adalah bahwa perusahaan menggeser aplikasi bisnis berbasis web. Ketercapaian ini akan sangat tergantung pada ketersediaan dukungan aplikasi web selama 24/7. Biaya yang ditimbulkan untuk mendukung upaya ini pun mungkin akan mengejutkan. Perusahaan perlu database administrator, ahli jaringan, pakar keamanan dan sekitar 24 jam dukungan teknis untuk membantu pengguna dan pelanggan. Penghematan biaya dengan outsourcing fungsi-fungsi IT ini, tentunya akan berdampak sangat signifikan.

3. IT Staffing

Sebagian besar perusahaan saat ini menjadi sadar akan banyaknya faktor yang perlu dipertimbangkan dalam perekrutan staf IT, antara lain:

  • Training, staf IT memerlukan update skill secara terus-menerus untuk tetap mampu memenuhi kebutuhan teknologi. Bandingkan ini dengan Managed IT Vendor yang dapat mengagregat biaya pelatihan terhadap beberapa pekerja IT.
  • Turn over dan dampak kehilangan personil kunci IT dapat mempengaruhi hilangnya pengetahuan dan prosedur-prosedur IT. Bandingkan ini dengan Managed IT Vendor yang memiliki kolam besar pekerja terampil dan dapat mengurangi hilangnya personil kunci.
  • Biaya karyawan, pajak dan biaya sumber daya manusia lain yang bekerja in-house dapat bertambah secara signifikan. Bandingkan dengan Managed IT Vendor yang dapat memberikan layanan ini dengan tarif tetap, terprediksi dan terukur.

Daftar Pustaka

O’Brien JA. 2005. Introduction to Information System 12th ed. Boston: McGraw-Hill Companies, Inc.

Umariah S. 2010. Penilaian terhadap outsourcing dan insourcing. http://sariumariah.blogstudent.mb.ipb.ac.id. [25 Desember 2010]

Wiguna A. 2010. “Outsourcing” dalam pengembangan dan penerapan sistem informasi di organisasi. http://aryawiguna.blogstudent.mb.ipb.ac.id. [25 Desember 2010]

Sistem informasi menyebabkan terjadinya perubahan yang cukup signifikan dalam pola pengambilan keputusan yang dilakukan oleh manajemen, baik pada tingkat operasional (pelaksana teknis) maupun pimpinan. Terdapat beberapa pendekatan yang bisa dilakukan oleh suatu organisasi dalam membangun dan mengelola sistem informasi, yakni insourcing, cosourcing dan outsourcing. Namun, keterbatasan sumber daya yang dimiliki perusahaan untuk membangun dan mengelola sistem informasi menyebabkan maraknya penggunaan jasa outsourcing atau pihak ketiga (vendor) dalam membangun dan mengelola sistem informasi.
Outsourcing adalah penggunaan pihak ketiga (vendor) untuk membangun dan mengembangkan suatu paket sistem informsi yang dibutuhkan oleh perusahaan. Pihak perusahaan cukup membeli beberapa paket sistem aplikasi yang siap pakai, karena paket aplikasi tersebut dibuat oleh vendor yang ahli di bidang sistem aplikasi. Seperti yang kita ketahui adalah menyerahkan sebagian
pekerjaan kepada pihak. Beberapa alasan strategis utama suatu perusahaan melakukan outsourcing adalah sebagai berikut.
 Meningkatkan fokus bisnis, sehingga dengan outsourcing maka perusahaan bisa lebih fokus pada bisnis utamanya dan membiarkan sebagian operasionalnya dikerjakan oleh pihak lain.
 Membagi resiko operasional, sehingga dengan outsourcing maka risiko operasional perusahaan bisa terbagi kepada pihak lain.
 Sumber daya perusahaan yang ada bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan yang lainnya, sehingga dengan melakukan outsourcing, staf yang ada bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan yang lebih strategis atau yang lain.
Terdapat dua jenis pendekatan outsourcing, yaitu dengan menggunakan paying agent (labor supply) dan full agent (full outsource). Pendekatan yang lebih banyak dipraktekkan di Indonesia adalah paying agent. Artinya, perusahaan outsource hanya menyediakan tenaga kerja dan mengurusi sumber daya manusia serta administrasinya saja, sementara tempat, pengawas dan semua lat produksi berada di perusahaan pengguna.
Meskipun penggunaan outsourcing seringkali digunakan sebagai strategi kompetisi perusahaan untuk fokus pada core business-nya. Namun, pada prakteknya outsourcing didorong oleh keinginan perusahaan untuk menekan cost hingga serendah-rendahnya dan mendapatkan keuntungan berlipat ganda walaupun seringkali melanggar etika bisnis.
Penelitian yang dilakukan oleh Divisi Riset PPM Manajemen terhadap 44 perusahaan dari berbagai industri, 73 persen perusahaan di Indonesia menggunakan jasa outsourcing. Dari 73 persen perusahaan yang menggunakan jasa outsource terdapat lima alasan menggunakan outsourcing, yaitu agar perusahaan dapat fokus terhadap core business (33,75%), untuk menghemat biaya operasional (28,75%), turn over karyawan menjadi rendah (15%), modernisasi dunia usaha dan lainnya masing-masing sebesar 11,25%.Sistem informasi menyebabkan terjadinya perubahan yang cukup signifikan dalam pola pengambilan keputusan yang dilakukan oleh manajemen, baik pada tingkat operasional (pelaksana teknis) maupun pimpinan. Terdapat beberapa pendekatan yang bisa dilakukan oleh suatu organisasi dalam membangun dan mengelola sistem informasi, yakni insourcing, cosourcing dan outsourcing. Namun, keterbatasan sumber daya yang dimiliki perusahaan untuk membangun dan mengelola sistem informasi menyebabkan maraknya penggunaan jasa outsourcing atau pihak ketiga (vendor) dalam membangun dan mengelola sistem informasi.

Outsourcing adalah penggunaan pihak ketiga (vendor) untuk membangun dan mengembangkan suatu paket sistem informsi yang dibutuhkan oleh perusahaan. Pihak perusahaan cukup membeli beberapa paket sistem aplikasi yang siap pakai, karena paket aplikasi tersebut dibuat oleh vendor yang ahli di bidang sistem aplikasi. Seperti yang kita ketahui adalah menyerahkan sebagian pekerjaan kepada pihak. Beberapa alasan strategis utama suatu perusahaan melakukan outsourcing adalah sebagai berikut.

  • Meningkatkan fokus bisnis, sehingga dengan outsourcing maka perusahaan bisa

    Sistem informasi menyebabkan terjadinya perubahan yang cukup signifikan dalam pola pengambilan keputusan yang dilakukan oleh manajemen, baik pada tingkat operasional (pelaksana teknis) maupun pimpinan. Terdapat beberapa pendekatan yang bisa dilakukan oleh suatu organisasi dalam membangun dan mengelola sistem informasi, yakni insourcing, cosourcing dan outsourcing. Namun, keterbatasan sumber daya yang dimiliki perusahaan untuk membangun dan mengelola sistem informasi menyebabkan maraknya penggunaan jasa outsourcing atau pihak ketiga (vendor) dalam membangun dan mengelola sistem informasi.

    Outsourcing adalah penggunaan pihak ketiga (vendor) untuk membangun dan mengembangkan suatu paket sistem informsi yang dibutuhkan oleh perusahaan. Pihak perusahaan cukup membeli beberapa paket sistem aplikasi yang siap pakai, karena paket aplikasi tersebut dibuat oleh vendor yang ahli di bidang sistem aplikasi. Seperti yang kita ketahui adalah menyerahkan sebagian pekerjaan kepada pihak. Beberapa alasan strategis utama suatu perusahaan melakukan outsourcing adalah sebagai berikut.

  • Meningkatkan fokus bisnis, sehingga dengan outsourcing maka perusahaan bisa lebih fokus pada bisnis utamanya dan membiarkan sebagian operasionalnya dikerjakan oleh pihak lain.
  • Membagi resiko operasional, sehingga dengan outsourcing maka risiko operasional perusahaan bisa terbagi kepada pihak lain.

Daftar Pustaka Bab 3.3:

Nugroho A. 2009. Metodologi pengembangan sistem informasi. http://www.agungnugroho.net. [25 Desember 2010]

Anonim. 2010. Pengembangan sistem informasi. http://wsilfi.staff.gunadarma.ac.id. [25 Desember 2010]

Sumber daya perusahaan yang ada bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan yang lainnya, sehingga dengan melakukan outsourcing, staf yang ada bisa dimanfaatkan untuk  kebutuhan yang lebih strategis atau yang lain.

Sistem informasi menyebabkan terjadinya perubahan yang cukup signifikan dalam pola pengambilan keputusan yang dilakukan oleh manajemen, baik pada tingkat operasional (pelaksana tek

Sistem informasi menyebabkan terjadinya perubahan yang cukup signifikan dalam pola pengambilan keputusan yang dilakukan oleh manajemen, baik pada tingkat operasional (pelaksana teknis) maupun pimpinan. Terdapat beberapa pendekatan yang bisa dilakukan oleh suatu organisasi dalam membangun dan mengelola sistem informasi, yakni insourcing, cosourcing dan outsourcing. Namun, keterbatasan sumber daya yang dimiliki perusahaan untuk membangun dan mengelola sistem informasi menyebabkan maraknya penggunaan jasa outsourcing atau pihak ketiga (vendor) dalam membangun dan mengelola sistem informasi.

Outsourcing adalah penggunaan pihak ketiga (vendor) untuk membangun dan mengembangkan suatu paket sistem informsi yang dibutuhkan oleh perusahaan. Pihak perusahaan cukup membeli beberapa paket sistem aplikasi yang siap pakai, karena paket aplikasi tersebut dibuat oleh vendor yang ahli di bidang sistem aplikasi. Seperti yang kita ketahui adalah menyerahkan sebagian pekerjaan kepada pihak. Beberapa alasan strategis utama suatu perusahaan melakukan outsourcing adalah sebagai berikut.

  • Meningkatkan fokus bisnis, sehingga dengan outsourcing maka perusahaan bisa lebih fokus pada bisnis utamanya dan membiarkan sebagian operasionalnya dikerjakan oleh pihak lain.
  • Membagi resiko operasional, sehingga dengan outsourcing maka risiko operasional perusahaan bisa terbagi kepada pihak lain.
  • Sumber daya perusahaan yang ada bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan yang lainnya, sehingga dengan melakukan outsourcing, staf yang ada bisa dimanfaatkan untuk  kebutuhan yang lebih strategis atau yang lain.

Terdapat dua jenis pendekatan outsourcing, yaitu dengan menggunakan paying agent (labor supply) dan full agent (full outsource). Pendekatan yang lebih banyak dipraktekkan di Indonesia adalah paying agent. Artinya, perusahaan outsource hanya menyediakan tenaga kerja dan mengurusi sumber daya manusia serta administrasinya saja, sementara tempat, pengawas dan semua lat produksi berada di perusahaan pengguna.

Meskipun penggunaan outsourcing seringkali digunakan sebagai strategi kompetisi perusahaan untuk fokus pada core business-nya. Namun, pada prakteknya outsourcing didorong oleh keinginan perusahaan untuk menekan cost hingga serendah-rendahnya dan mendapatkan keuntungan berlipat ganda walaupun seringkali melanggar etika bisnis.

Penelitian yang dilakukan oleh Divisi Riset PPM Manajemen terhadap 44 perusahaan dari berbagai industri, 73 persen perusahaan di Indonesia menggunakan jasa outsourcing. Dari 73 persen perusahaan yang menggunakan jasa outsource terdapat lima alasan menggunakan outsourcing, yaitu agar perusahaan dapat fokus terhadap core business (33,75%), untuk menghemat biaya operasional (28,75%), turn over karyawan menjadi rendah (15%), modernisasi dunia usaha dan lainnya masing-masing sebesar 11,25%.

nis) maupun pimpinan. Terdapat beberapa pendekatan yang bisa dilakukan oleh suatu organisasi dalam membangun dan mengelola sistem informasi, yakni insourcing, cosourcing dan outsourcing. Namun, keterbatasan sumber daya yang dimiliki perusahaan untuk membangun dan mengelola sistem informasi menyebabkan maraknya penggunaan jasa outsourcing atau pihak ketiga (vendor) dalam membangun dan mengelola sistem informasi.

Outsourcing adalah penggunaan pihak ketiga (vendor) untuk membangun dan mengembangkan suatu paket sistem informsi yang dibutuhkan oleh perusahaan. Pihak perusahaan cukup membeli beberapa paket sistem aplikasi yang siap pakai, karena paket aplikasi tersebut dibuat oleh vendor yang ahli di bidang sistem aplikasi. Seperti yang kita ketahui adalah menyerahkan sebagian pekerjaan kepada pihak. Beberapa alasan strategis utama suatu perusahaan melakukan outsourcing adalah sebagai berikut.

  • Meningkatkan fokus bisnis, sehingga dengan outsourcing maka perusahaan bisa lebih fokus pada bisnis utamanya dan membiarkan sebagian operasionalnya dikerjakan oleh pihak lain.
  • Membagi resiko operasional, sehingga dengan outsourcing maka risiko operasional perusahaan bisa terbagi kepada pihak lain.

Daftar Pustaka Bab 3.3:

Nugroho A. 2009. Metodologi pengembangan sistem informasi. http://www.agungnugroho.net. [25 Desember 2010]

Anonim. 2010. Pengembangan sistem informasi. http://wsilfi.staff.gunadarma.ac.id. [25 Desember 2010]

Sumber daya perusahaan yang ada bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan yang lainnya, sehingga dengan melakukan outsourcing, staf yang ada bisa dimanfaatkan untuk  kebutuhan yang lebih strategis atau yang lain.

  • lebih fokus pada bisnis utamanya dan membiarkan sebagian operasionalnya dikerjakan oleh pihak lain.
  • Membagi resiko operasional, sehingga dengan outsourcing maka risiko operasional perusahaan bisa terbagi kepada pihak lain.

  • Daftar Pustaka Bab 3.3:

    Nugroho A. 2009. Metodologi pengembangan sistem informasi. http://www.agungnugroho.net. [25 Desember 2010]

    Anonim. 2010. Pengembangan sistem informasi. http://wsilfi.staff.gunadarma.ac.id. [25 Desember 2010]

    Sumber daya perusahaan yang ada bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan yang lainnya, sehingga dengan melakukan outsourcing, staf yang ada bisa dimanfaatkan untuk  kebutuhan yang lebih strategis atau yang lain.

Perbedaan Pengembangan Sistem Informasi dan Software

Proses bisnis yang berjalan dalam organisasi semakin lama semakin berkembang. Proses transaksi yang ada juga semakin rumit, sehingga organisasi tidak bisa hanya mengandalkan pemrosesan transaksi secara tradisional. Oleh karena itu, pengembangan sistem informasi merupakan suatu keharusan bagi sebuah organisasi dalam menjalankan aktivitas bisnisnya. Pengembangan sistem informasi memerlukan suatu perencanaan dan implementasi yang hati-hati untuk menghindari adanya penolakan terhadap sistem yang dikembangkan (resistance to change) serta mengefisiensikan biaya yang dikeluarkan.

Pengembangan sistem informasi sering disebut sebagai proses pengembangan sistem (System Development), yaitu aktivitas untuk menghasilkan sistem informasi berbasis komputer untuk menyelesaikan persoalan organisasi atau memanfaatkan kesempatan yang ada. Pengembangan sistem informasi memerlukan keterlibatan komponen-komponen sistem informasi, yaitu sumber daya manusia, perangkat keras, perangkat lunak, jaringan komunikasi, serta prosedur dan kebijakan.

Pengembangan software merupakan bagian dari pengembangan sistem informasi. Oleh karena itu, pengembangan software harus sejalan dengan perencanaan sistem informasi. Pengembangan sistem sofware (Software Develompment) adalah pengembangan suatu produk software melalui suatu perencanaan dan proses yang terstruktur. Pengembangan software ini dapat ditujukan untuk berbagai kepentingan, yaitu kebutuhan khusus bagi bisnis tertentu, kebutuhan yang diharapkan oleh pengguna potensial dan kebutuhan untuk kepentingan pribadi.

Perbedaan antara pengembangan sistem informasi dan pengembangan software terletak pada tahapan pembangunannya.  Pengembangan sistem informasi terdiri dari tahap perencanaan sistem informasi (PSI), analisa, perancangan, dan implementasi. Sementara tahapan pengembangan software terdiri dari analisa, perancangan dan implementasi.

Pengembangan software menggunakan teknik terstruktur untuk menghasilkan satu software dan dilaksanakan pada satu kegiatan proyek. Sementara pengembangan sistem informasi menggunakan teknik terstruktur untuk menghasilkan satu sistem informasi bagi perusahaan secara keseluruhan, dimana dalam rekayasa sistem informasi kemungkinan akan memerlukan banyak waktu dan banyak biaya serta menggunakan banyak personil.

1.      Fase Perencanaan Sistem

Terdapat dua faktor yang perlu dipertimbangkan selama fase perencanaan sistem perlu. Pertama Dalam fase perencanaan sistem perlu dibentuk suuatu struktur kerja strategis yang luas dan pandangan sistem informasi baru yang jelas, yang akan memenuhi kebutuhan-kebutuhan pemakai informasi. Pada tahap ini, proyek sistem dievaluasi dan dipisahkan berdasarkan prioritasnya. Proyek dengan prioritas tertinggi akan dipilih untuk pengembangan. Selain itu, diperlukan pula sumber daya baru dan penyediaan dana untuk mendukung pengembangan sistem.

, faktor-faktor kelayakan (feasibility factors) yang berkaitan dengan kemungkinan berhasilnya sistem informasi yang dikembangkan dan digunakan. Kedua, faktor-faktor strategis (strategic factors) yang berkaitan dengan pendukung sistem informasi dari sasaran bisnis yang dipertimbangkan untuk setiap proyek yang diusulkan. Nilai-nilai yang dihasilkan dievaluasi untuk menentukan proyek sistem mana yang akan menerima prioritas yang tertinggi (Tabel 1).

Tabel 1. Kriteria Faktor Kelayakan dan Faktor Strategis

Faktor Kelayakan

Faktor Strategis

1.     Kelayakan Teknis

2.     Kelayakan Ekonomis

3.     Kelayakan Legal

4.     Kelayakan Operasional

5.     Kelayakan Rencana

1.     Produktivitas

2.     Diferensiasi

3.     Manajemen

2.      Fase Analisis Sistem

Fase analisis sistem adalah fase profesional sistem dalam melakukan kegiatan analisis sistem. Pada fase ini dilakukan proses penilaian, identifikasi dan evaluasi komponen dan hubungan timbal-balik yang terkait dalam pengembangan sistem. Ruang lingkup analisis sistem ditentukan pada fase ini. Profesional sistem mewawancarai calon pemakai dan bekerja dengan pemakai yang bersangkutan untuk mencari penyelesaian masalah dan menentukan kebutuhan pemakai. Pada akhir fase analisis sistem, laporan analisis sistem disiapkan. Laporan ini berisi penemuan-penemuan dan rekomendasi. Bila laporan ini disetujui, tim proyek sistem siap untuk memulai fase perancangan sistem secara umum. Namun bila laporan tidak disetujui, tim proyek harus menjalankan analisis tambahan sampai semua peserta setuju.

3.      Fase Perancangan Sistem

Fase perancangan sistem merupakan fase pendefinisian kebutuhan-kebutuhan fungsional. Tujuan perancangan sistem adalah untuk memenuhi kebutuhan para pemakai (perancangan sistem secara umum) serta untuk memberikan gambaran yang jelas dan rancang bangun yang lengkap kepada pemrogram komputer dan ahli teknik lainnya yang terlibat (perancangan sistem secara khusus). Perancangan sistem memiliki beberapa sasaran, yaitu sebagai berikut.

  • Harus berguna, mudah dipahami dan mudah digunakan.
  • Harus dapat mendukung tujuan utama perusahaan.
  • Harus efisien dan efektif untuk dapat mendukung pengolahan transaksi, pelaporan manajemen dan mendukung keputusan yang akan dilakukan oleh manajemen, termasuk tugas-tugas yang lainnya yang tidak dilakukan oleh komputer.
  • Harus dapat mempersiapkan rancang bangun yang terinci untuk masingmasing komponen dari sistem informasi yang meliputi data dan informasi, simpanan data, metode-metode, prosedur-prosedur, orang-orang, perangkat keras, perangkat lunak dan pengendalian intern.

4.      Fase Implementasi Sistem

Pada fase ini sistem siap untuk dibuat dan diinstalasi. Sejumlah tugas harus dikoordinasi dan dilaksanakan untuk implementasi sistem baru. Laporan implementasi yang dibuat pada fase ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu rancana implementasi dalam bentuk Gantt Chart atau Program and Evaluation Review Technique (PERT) Chart, dan penjadwalan proyek dan teknik manajemen. Bagian kedua adalah laporan yang menerangkan tugas penting untuk melaksanakan implementasi sistem, seperti:

  • Pengembangan perangkat lunak;
  • Persiapan lokasi peletakkan sistem;
  • Instalasi peralatan yang digunakan;
  • Pengujian sistem;
  • Pelatihan untuk para pemakai sistem; dan
  • Persiapan dokumentasi.

Daftar Pustaka

Nugroho A. 2009. Metodologi pengembangan sistem informasi. http://www.agungnugroho.net. [25 Desember 2010]

Anonim. 2010. Pengembangan sistem informasi. http://wsilfi.staff.gunadarma.ac.id. [25 Desember 2010]

Faktor Penentu Kegagalan dalam Pengembangan atau Penerapan Sistem Informasi di Suatu Organisasi

Proses bisnis yang berjalan dalam organisasi semakin lama semakin berkembang. Proses transaksi yang ada juga semakin rumit. Dalam hal ini, suatu organisasi tidak bisa hanya mengandalkan pemrosesan transaksi secara tradisional. Oleh karena itu, pengembangan sistem informasi merupakan suatu keharusan bagi organisasi dalam menjalankan aktivitas bisnisnya.

Perusahaan yang aktivitas operasionalnya masih manual ketika mencoba menggunakan suatu teknologi komputer untuk pemrosesan data, maka masalah pertama yang dihadapi adalah besarnya pembiayaan yang harus dikeluarkan. Pembiayaan ini dapat berupa biaya pembelian hardware, pembangunan sistem, dan penyiapan infrastruktur, baik sumber daya manusia maupun teknis. Sementara perusahaan yang sudah memiliki sistem pemrosesan data terkomputerisasi, ketika melakukan pengembangan sistem informasi akan menghadapi masalah pada aspek fisik dan non-fisik. Aspek fisik meliputi biaya pengembangan, up grading hardware dan penciptaan infrastruktur tertentu, sedangkan aspek non-fisik meliputi tingkat penerimaan user, dukungan manajemen dan kualitas sistem informasi.

Penerapan sistem informasi di suatu organisasi merupakan salah satu cara dalam memenangkan persaingan yang semakin ketat dan menjadikan informasi sebagai sumberdaya yang harus dikelola dengan tepat, sehingga tercipta suatu sistem terpadu yang menyediakan informasi untuk mendukung kegiatan operasional, manajemen dan fungsi penentu pengambilan keputusan bisnis yang tepat. Penerapan sistem informasi baru juga akan mengalami masalah yang jika tidak diselesaikan akan menimbulkan inefisiensi dan inefektivitas dalam pemberdayaan sumber daya potensial. Oleh karena itu, sebelum melakukan upaya pengembangan dan implementasi, harus dilakukan proses konsiderasi secara multidimensi terhadap berbagai variabel yang mungkin berpengaruh terhadap kesuksesan suatu sistem baru.

Rosemary Cafasaro dalam O’Brien  dan Marakas (2009) menyatakan bahwa terdapat beberapa alasan yang menyebabkan sukses atau tidaknya suatu organisasi/perusahaan dalam menerapkan sistem informasi. Faktor-faktor yang mempengaruhi kesukesan penerapan sistem informasi, antara lain adanya dukungan dari manajemen eksekutif, keterlibatan end user (pemakai akhir), penggunaan kebutuhan perusahaan yang jelas, perencanaan yang matang, dan harapan perusahaan yang nyata. Sementara alasan kegagalan penerapan sistem informasi  antara lain karena kurangnya dukungan manajemen eksekutif dan input dari end-user, pernyataan kebutuhan dan spesifikasi yang tidak lengkap dan selalu berubah-ubah, serta inkompetensi secara teknologi, yang diuraikan sebagai berikut.

1.      Kurangnya dukungan dari pihak eksekutif atau manajemen

Persetujuan dari semua level manajemen terhadap suatu proyek sistem informasi membuat proyek tersebut akan dipersepsikan positif oleh pengguna dan staf pelayanan teknis informasi. Dukungan tersebut dapat diwujudkan dalam bentuk penghargaan terhadap waktu dan tenaga yang telah dicurahkan pada proyek tersebut, dukungan bahwa proyek akan menerima cukup dana, serta berbagai perubahan organisasi yang diperlukan. Dengan demikian, kurangnya komitmen eksekutif puncak untuk terlibat lebih jauh dalam proyek mengakibatkan penerapan sistem informasi perusahaan menjadi sia-sia.

Keterlibatan eksekutif dalam pengembangan sistem informasi di perusahaan juga menentukan kesuksesan proses sosialisasi sistem informasi. Proses sosialisasi sistem informasi yang baru merupakan proses perubahan organisasional. Kebanyakan orang dalam organisasi akan bertahan, karena perubahan mengandung ketidakpastian dan ancaman bagi posisi dan peran mereka. Akan tetapi, proses perubahan organisasional ini diperlukan untuk manajemen perubahan selama proses sosialisasi sistem informasi baru. Beberapa resiko dan konsekuensi manajemen yang tidak tepat dalam pengembangan sistem informasi adalah sebagai berikut.

  • Biaya yang berlebih-lebihan sehingga melampaui anggaran.
  • Melampaui waktu yang telah diperkirakan.
  • Kelemahan teknis yang berakibat pada kinerja yang berada dibawah tingkat dari yang diperkirakan.
  • Gagal dalam memperoleh manfaat yang diperkirakan.

2.      Kurangnya keterlibatan atau input dari end user (pemakai akhir)

Sikap positif dari pengguna terhadap sistem informasi akan sangat mendukung berhasil atau tidaknya penerapan sistem informasi. Sikap positif dalam bentuk dukungan dan kompetensi dari user, serta hubungan yang baik antara user dengan teknisi merupakan faktor sikap yang menguntungkan (favorable attitudes) dan sangat penting bagi berhasilnya penerapan sistem informasi. Sikap positif menentukan tindakan, dan akan berkaitan dengan tingkat penggunaan yang tinggi (high levels of use) serta kepuasan (satisfaction) terhadap sistem tersebut.

Disamping itu, keterlibatan pengguna dalam desain dan operasi sistem informasi memiliki beberapa hasil yang positif. Pertama, jika pengguna terlibat secara mendalam dalam desain sistem, ia akan memiliki kesempatan untuk mengadopsi sistem menurut prioritas dan kebutuhan bisnis, dan lebih banyak kesempatan untuk mengontrol hasil. Kedua, pengguna cenderung untuk lebih bereaksi positif terhadap sistem karena mereka merupakan partisipan aktif dalam proses perubahan itu sendiri.

Kesenjangan komunikasi antara pengguna dan perancang sistem informasi terjadi karena pengguna dan spesialis sistem informasi cenderung memiliki perbedaan dalam latar belakang, kepentingan dan prioritas. Inilah yang sering dikatakan sebagai kesenjangan komunikasi antara pengguna dan desainer (user-designer communication gap).

3.      Tidak Memiliki Perencanaan Memadai

Pengembangan dan penerapan sistem informasi yang tidak didukung dengan perencanaan yang matang tidak akan mampu menjembatani keinginan dan kepentingan berbagai pihak di perusahaan. Hal ini dikarenakan sistem yang dijalankan tidak sesuai dengan arah dan tujuan perusahaan. Oleh karena itu, perusahaan yang tidak memiliki kompetensi inti dalam bidang teknologi informasi sebaiknya menjadi tidak memaksakan untuk menjadi leader dalam investasi teknologi informasi.

Sebagian besar penyedia jasa teknologi informasi kurang sensitif  terhadap manajemen perusahaan, tetapi hanya fokus pada tools yang akan dikembangkan. Kelemahan inilah yang mengharuskan perusahaan untuk mengidentifikasi secara jelas kebutuhan dan spesifikasi sistem informasi yang akan diterapkan berikut manfaatnya terhadap perusahaan. Kemauan perusahaan dalam merancang penerapan sistem informasi berdasarkan sumberdaya yang dimiliki diyakini dapat meningkatkan keunggulan kompetitif perusahaan.

4.      Inkompetensi secara Teknologi

Kesuksesan pengembangan sistem informasi tidak hanya bergantung pada penggunaan alat atau teknologinya saja, tetapi juga manusia  sebagai perancang dan penggunanya. Bodnar dan Hopwood (1995) dalam Murdaningsih (2009) berpendapat bahwa perubahan dari sistem manual ke sistem komputerisasi tidak hanya menyangkut perubahan teknologi tetapi juga perubahan perilaku dan organisasional. Sekitar 30 persen kegagalan pengembangan sistem informasi baru diakibatkan kurangnya perhatian pada aspek organisasional. Oleh karena itu, pengembangan sistem informasi memerlukan suatu perencanaan dan implementasi yang hati-hati, untuk menghindari adanya penolakan terhadap sistem yang dikembangkan (resistance to change).

Sistem informasi harus dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan pengguna. Kompleksitas sistem bukanlah merupakan jaminan perbaikan kinerja, bahkan menjadi kontraproduktif jika tidak didukung oleh kesiapan sumber daya manusia dalam tahapan implementasinya. Hal ini sering terjadi terutama pada perusahaan yang pengetahuan teknologi informasinya rendah. Jika pengembangan sistem informasi diserahkan pada orang-orang yang kurang berkompeten dibidangnya maka akan berakibat fatal bagi perusahaan ketika sistem tersebut telah diterapkan.

Daftar Pustaka

Ariefiani R.  2010. Faktor penentu kesuksesan dan kegagalan pengembangan sistem informasi di suatu perusahaan. http://rizma.blogstudent.mb.ipb.ac.id. [25 Desember 2010]

Murdaningsih A. 2009. Analisis Pengaruh Partisipasi pemakai terhadap Kepuasan Pemakai Sistem Informasi dalam Pengembangan Sistem Informasi dengan Dukungan Manajemen Puncak, Komunikasi Pemakai-Pengembang, Kompleksitas Sistem, Kompleksitas Tugas, pengaruh Pemakai sebagai Variabel Pemoderasi [skripsi]. Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi, Universitas Muhammadiyah. Surakarta.

O’Brien JA, Marakas G. 2009. Management Information sistem. Ninth edition. Boston: Mc Graw Hill, Inc.

Penggunaan Sistem Informasi dalam Menunjang Strategi Perusahaan

Persaingan merupakan kunci penentu keberhasilan sebuah organisasi bisnis. Strategi persaingan yang diterapkan oleh bisnis/industri mampu memberikan keunggulan organisasi, dengan memperhatikan faktor biaya, mutu dan kecepatan proses. Keunggulan kompetitif akan membawa organisasi pada kemampuan mengendalikan pasar dan meraih keuntungan usaha. Strategi bisnis menjadi pusat yang mengendalikan strategi organisasi dan strategi informasi. Perubahan pada salah satu strategi membutuhkan penyesuaian, agar tetap setimbang.

Hubungan antara strategi kompetitif perusahaan dan manfaat penggunaan sistem informasi dikembangkan melalui beberapa lapisan, mulai dari perencanaan, analisa dan perancangan. Sejalan dengan semakin luasnya pemanfaatan teknologi informasi di lingkungan bisnis, maka pemisahan antara teknologi informasi dan strategi kompetitif perusahaan semakin tidak terlihat. Hal ini karena seluruh strategi kompetitif perusahaan harus memiliki teknologi informasi.

Strategi perusahaan berbasis sistem informasi perlu dibuat karena sumber daya yang dimiliki perusahaan sangat terbatas, sehingga harus dimanfaatkan secara optimal. Strategi ini juga digunakan untuk meningkatkan daya saing atau kinerja perusahaan karena para kompetitor memiliki sumberdaya teknologi yang sama dan memastikan bahwa aset teknologi informasi dapat dimanfaatkan secara langsung maupun tidak langsung dalam meningkatkan profitabilitas perusahaan, baik berupa peningkatan pendapatan mapun pengurangan biaya. Selain itu, strategi perusahaan berbasis sistem informasi digunakan untuk mencegah terjadinya kelebihan atau kekurangan investasi serta menjamin bahwa teknologi informasi yang direncanakan benar-benar menjawab kebutuhan bisnis perusahaan akan informasi.

Menurut O’Brien (2005), peran strategis sistem informasi dalam organisasi adalah memperbaiki efisiensi operasi, meningkatkan inovasi organisasi dan membangun sumber daya informasi yang strategis. Ketiga peran strategis ini dapat mendukung organisasi dalam meningkatkan keunggulan kompetitif dalam bersaing. Dalam sebuah organisasi non-profit, peran strategis yang dimaksud adalah meningkatkan efisiensi dalam pelaksanaan pekerjaan dan meningkatkan kinerja dalam melakukan aktivitas pelayanan.

Sistem informasi yang diaplikasikan oleh perusahaan untuk menunjang strateginya dapat pula digunakan untuk melihat kecenderungan tren bisnis di masa depan. Dengan adanya sistem informasi, maka perusahaan dapat mengantisipasi perubahan-perubahan yang mungkin terjadi dalam jangka pendek, menengah, maupun panjang karena adanya perubahan orientasi bisnis. Disamping itu, sistem informasi yang unggul akan menciptakan barriers to entry pada kompetitor karena adanya kerumitan teknologi untuk memasuki persaingan pasar.

Dari sisi internal perusahaan, penggunaan sistem informasi bukan saja akan meningkatkan kualitas serta kecepatan informasi yang dihasilkan bagi manajemen, tetapi juga dapat menciptakan suatu sistem informasi manajemen yang mampu meningkatkan integrasi di bidang informasi dan operasi diantara berbagai pihak yang ada di perusahaan. Sistem ini dapat berjalan dengan baik apabila semua proses didukung dengan teknologi yang tinggi, sumberdaya yang berkualitas, dan yang paling penting adalah komitmen perusahaan. Sistem informasi secara umum memiliki beberapa peranan dalam perusahaan, diantaranya sebagai berikut.

1.      Minimize Risk

Setiap bisnis memiliki resiko, terutama berkaitan dengan faktor-faktor keuangan. Pada umumnya resiko berasal dari ketidakpastian dalam berbagai hal dan aspek-aspek eksternal lain yang berada diuar kontrol perusahaan. Saat ini berbagai jenis aplikasi telah tersedia untuk mengurangi resiko-resiko yang kerap diahadapi oleh bisnis, seperti forecasting, financial advisory, planning expert, dan lain-lain. Selain itu, kehadiran teknologi informasi merupakan sarana bagi manajemen dalam mengelola resiko yang dihadapi.

2.      Reduce Cost

Peran teknologi informasi sebagai katalisator dalam berbagai usaha pengurangan biaya operasional perusahaan akan berpengaruh terhadap profitabilitas perusahaan. Terdapat empat cara untuk mengurangi biaya operasional melalui penerapan sistem informasi, yakni eliminasi proses yang dirasa tidak perlu, simplifikasi proses, integrasi proses sehingga lebih cepat dan praktis, serta otomatisasi proses.

3.      Added Value

Teknologi informasi dapat menciptakan value bagi pelanggan perusahaan. Penciptaan value ini tidak sekedar untuk memuaskan pelanggan, tetapi juga untuk menciptakan loyalitas pelanggan dalam jangka panjang.

4.      Create New Realities

Pesatnya teknologi internet menghasilkan suatu arena bersaing baru bagi perusahaan di dunia maya. Hal ini ditunjukkan dengan maraknya penggunaan e-commerce, e-loyalty, e-customer, dan lain-lain dalam menanggapi mekanisme bisnis di era globalisasi informasi.

Dengan semakin berkembangnya peranan teknologi informasi dalam dunia bisnis, maka menuntut manajemen untuk menghasilkan sistem informasi yang layak dan mendukung kegiatan bisnis. Untuk itu, dituntut sebuah perubahan dalam bidang manajemen sistem informasi. Perubahan yang terjadi adalah dengan diterapkannya perencanaan strategis sistem informasi. Seiring dengan perkembangan dunia bisnis, peningkatan perencanaan strategis sistem informasi menjadi tantangan serius bagi pihak manajemen sistem informasi.

Perencanaan strategis sistem informasi diperlukan agar sebuah organisasi dapat mengenali target terbaik untuk melakukan pembelian dan penerapan sistem informasi manajemen, serta memaksimalkan hasil investasi dari teknologi informasi. Sebuah sistem informasi yang baik akan membantu sebuah organisasi dalam pengambilan keputusan untuk merealisasikan rencana bisnisnya. Dengan demikian, penerapan teknologi informasi untuk menentukan strategi perusahaan adalah salah satu cara yang paling efektif dalam untuk meningkatkan performa bisnis. Strategi sistem informasi dipengaruhi oleh strategi-strategi lain yang diterapkan perusahaan dan selalu memiliki konsekuensi. Empat komponen infrastruktur sistem informasi menjadi kunci strategi sistem informasi (Tabel 1).

Daftar Pustaka

O’Brien JA. 2005. Introduction to Information System 12th ed. Boston: McGraw-Hill Companies, Inc.

Interisti JR. 2010. Peranan IT dalam organisasi perusahaan. http://jane.blog.uns.ac.id. [25 Desember 2010]

Noviyanto. 2010. Konsep-konsep dasar sistem informasi dalam bisnis. http://viyan.staff.gunadarma.ac.id. [25 Desember 2010]

Tabel 1. Matriks Strategi Sistem Informasi

What

Who

Where

Hardware List of physical components of the systems Individuals who use it

Individuals who manage it

Physical location
Software List of programs, applications and utilities I Individuals who use it

Individuals who manage it

What hardware it resides upon and where taht hardware is located
Networking Diagram of how hardware and software components are connected Individuals who use it/

Individuals who manage it

Company service obtained from

Where the nodes are located, where the wires and other transport media are located
Data Bits of information stored in the system Individuals who use itIndividuals who manage it Where the information resides

KEUNGGULAN DAN KELEMAHAN OUTSOURCE, INSOURCE DAN CO SOURCE

dalam Pengembangan dan Penerapan Sistem Informasi di Perusahaan


Pendahuluan

Sistem informasi memegang peranan yang cukup penting, terutama di era globalisasi saat ini.Tujuan sistem informasi itu sendiri adalah untuk mendukung operasi bisnis, keperluan manajerial dan keunggulan strategis. Informasi yang akurat, tepat waktu, relevan, dan valid, sehingga dalam pembuatan keputusan pengguna informasi akan merasa puas. Hampir seluruh sektor bisnis di dunia menggunakan sistem informasi dan senantiasa mengembangkan sistem informasi yang digunakan tersebut.

Pengembangan sistem informasi perusahaan pada dasarnya dapat dilakukan dengan tiga metode, yaitu outsourcing, insourcing dan co sourcing. Outsourcing berarti menyerahkan pengembangan sistem informasi pada pihak ketiga. Insourcing merupakan pengembangan sistem informasi yang dilakukan oleh Divisi Information Technology (IT) yang dimiliki perusahaan. Sementara Co sourcing merupakan pengembangan sistem informasi melalui kerjasama dengan pihak lain. Menurut Akomode et al. (1998), pengembangan sistem informasi melalui outsourcing memiliki beberapa keuntungan dibandingkan dengan insourcing dan co sourcing, yakni mempermudah perusahaan yang bisnis utamanya bukan bergerak di bidang sistem informasi dalam menghadapi tekanan perubahan teknologi. Namun, ketiga metode tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing dalam membangun sistem informasi sebuah perusahaan.

Sistem Informasi Manajemen

Sistem informasi adalah suatu sistem berbasis komputer (computer-based information system) yang menyediakan informasi bagi beberapa pengguna dengan kebutuhan yang serupa. Sistem informasi memuat berbagai informasi penting mengenai orang, tempat dan segala sesuatu yang ada di dalam atau di lingkungan sekitar organisasi. Dengan penggunaan teknologi informasi atau sistem informasi berbasis komputer, informasi yang dihasilkan dapat lebih akurat, berkualitas, dan tepat waktu, sehingga pengambilan keputusan dapat lebih efektif dan efisien (BPKP, 2007).

Sistem informasi terdiri dari lima sumber daya yang dikenal sebagai komponen sistem informasi. Kelima sumber daya tersebut memainkan peranan yang sangat penting dalam suatu sistem informasi, yaitu manusia, hardware, software, data, dan jaringan (O’Brien, 2005). Komponen tersebut digunakan oleh sistem informasi untuk menjalankan aktivitas dasar, yaitu masukan (input), pemrosesan (processing) dan keluaran (output) (McLeod & Schell, 2004), serta penyimpanan dan pengendalian. Aktivitas ini menghasilkan informasi yang dibutuhkan organisasi untuk pengambilan keputusan, pengendalian operasi, analisis masalah, menciptakan produk atau jasa baru.

Penerapan sistem informasi di dalam suatu organisasi dimaksudkan untuk memberikan dukungan informasi yang dibutuhkan khususnya oleh para pengguna informasi dari berbagai tingkatan manajemen, yang biasa disebut sebagai Sistem Informasi Manajemen (BPKP 2007). Sistem informasi manajemen cenderung berhubungan dengan pengolahan informasi yang berbasis komputer tergantung pada teknologi informasi yang digunakan dan strategi perusahaan untuk mencapai tujuan yang akan dicapai organisasi. Sistem ini terpadu dalam mendukung fungsi operasi, manajemen dan pengambilan keputusan dalam organisasi, dengan menggunakan hardware, software, prosedur manual, model manajemen keputusan, serta database. Sistem informasi manajemen dikatakan profesional jika mampu menyajikan informasi secara tepat, cepat, aman, dan akurat. Hal ini dapat terwujud dengan ditunjang oleh sumber daya manusia yang profesional.

Pengembangan Sistem Informasi Manajemen

Proses bisnis yang berjalan di dalam organisasi semakin lama semakin berkembang. Oleh karena itu, pengembangan sistem informasi merupakan suatu keharusan bagi sebuah organisasi dalam menjalankan aktivitas bisnisnya. Terkait dengan hal ini, pengelolaan sumber daya informasi memegang peranan yang sangat penting dala menunjang kesuksesan sebuah bisnis. Pengelolaan sumber daya informasi di perusahaan biasanya disebut dengan Sistem Informasi Sumber Daya Informasi (Information Resources Information System).

Faktor yang paling penting dalam pengelolaan sumber daya informasi adalah bagaimanan mengembangkan sistem informasi sumber daya informasi yang akan digunakan. Dalam hal ini, berarti organisasi menentukan bagaimana bentuk sistem yang dibutuhkan meliputi kebutuhan akan perangkat keras, perangkat lunak dan pelaksanaan serta SOP (Standard Operating Procedures) yang akan digunakan. Pendekatan yang dapat digunakan dalam proses pengembangan sistem informasi (Adrianda, 2010), diantaranya sebagai berikut.

System Development Life Cycle

Pengembangan sistem informasi merupakan proses atau prosedur yang harus diikuti untuk melaksanakan seluruh langkah dalam menganalisis, merancang, mengimplementasikan, dan memelihara sistem informasi. Proses-proses pengembangan ini dikenal dengan daur hidup pengembangan sistem atau System Development Life Cycle (SDLC). SDLC yang paling terkenal adalah model klasik yang disebut dengan model waterfall (Mulyanto, 2009).

Prototype Model

Model prototipe sering digunakan untuk membantu dalam membangun sistem informasi mengingat klien hanya memberikan informasi yang bersifat umum mengenai sistem yang akan dibangun. Langkah pertama yang dilakukan dalam membangun model prototipe adalah pengumpulan kebutuhan (bersifat umum). Langkah kedua adalah melakukan perancangan secara cepat dan sederhana yang akan dijadikan sebagai dasar pembuatan prototipe. Langkah terakhir, klien dapat mengevaluasi prototipe untuk menemukan kekurangan prototipe tersebut, kemudian menentukan kebutuhan-kebutuhan berikutnya yang bersifat lebih khusus. Langkah-langkah tersebut dilakukan berulang-ulang hingga kebutuhan klien dapat terpenuhi (Mulyanto, 2009). Kelemahan metode ini, yaitu tidak mudah diaplikasikan pada sistem yang relatif besar (Adrianda, 2010).

Rapid Application Development

Rapid Application Development (RAD) atau Rapid Prototyping adalah model proses pembangunan perangkat lunak yang tergolong dalam teknik incremental (bertingkat) pada siklus pembangunan pendek, singkat dan cepat. User diikutsertakan dalam proses desain sehingga lebih mudah untuk diimplementasikan. Kelemahan sistem ini adalah terlalu sulit dibuat dalam waktu yang singkat, dan pada akhirnya mengakibatkan kualitas sistem yang dihasilkan menjadi rendah (Adrianda, 2010).

Object Oriented Analysis and Development

Bermula dari Object Oriented Programming (OOP) yang berkembang menjadi Object Oriented Design (OOD) dan akhirnya menjadi Object Oriented Analysis (OOA). Keuntungannya teknik ini adalah dari analisis, desain sampai ke implementasi menggunakan notasi yang sama. Integrasi data dan pemrosesan selama dalam proses desain sistem akan menghasilkan sistem yang memiliki kualitas yang lebih baik serta mudah untuk dimodifikasi, memberikan informasi yang jelas tentang konteks dari sistem dan mengurangi biaya maintenance. Saat ini semakin banyak organisasi yang mengimplementasikan metoda Object Oriented (Dewanti, 2010).

End User Development

Faktor yang harus diperhatikan dalam pemilihan alternatif ini adalah kemampuan yang harus dimiliki pelaksana sistem informasi. Pelaksana harus mengembangkan sendiri aplikasi yang dibutuhkan, seperti menggunakan Microsoft Excel dan Microsoft Access. Manfaat yang diperoleh dari alternatif ini adalah: 1) penghematan biaya; 2) waktu pengembangan sistem informasi yang singkat; 3) mudah untuk melakukan modifikasi; 4) tanggung jawab pelaksana sistem informasi yang lebih besar; dan mengurangi beban kerja pelaksana sistem informasi.

Pemilihan Metode Pengembangan Sistem Informasi

Prioritas pertama pemilihan metode pengembangan sistem informasi umumnya adalah paket. Ketersediaan paket merupakan faktor penentu apakah membeli paket atau mengembangkan sistem informasi sendiri.

Jika paket tidak tersedia, prioritas kedua biasanya jatuh pada outsourcing. Penentuan apakah akan dikerjakan dan dioperasikan oleh pihak ketiga (outsourcing) atau dikembangkan sendiri (insourcing) ditentukan oleh faktor kemampuan sumber daya (resources) dari departemen sistem teknologi informasi. Jika departemen sistem informasi tidak mempunyai sumber daya yang baik, misalnya tidak mempunyai analis dan pemrogram yang berkualitas dan tidak mempunyai teknologi yang memadai, pilihan biasanya jatuh pada outsourcing.

Jika keputusan akan dikembangkan secara internal (insourcing), biasanya yang dipertimbangkan selanjutnya adalah metode pengembangan sistem informasi oleh pemakai sistem (end user development atau end user computing). Faktor penentu pengembangan sistem informasi oleh pemakai sistem adalah dampak dari sistem informasi yang akan dikembangkan. Jika dampaknya sempit, yaitu hanya pada individu pemakai sistem yang sekaligus pengembang sistem itu saja, maka end user computing dapat dilakukan. Sebaliknya, jika dampaknya luas sampai ke organisasi, pengembangan sistem dengan end user computing akan berbahaya, karena jika terjadi kesalahan dampaknya akan berpengaruh pada pemakai sistem lainnya pada organisasi secara luas.

Metode berikutnya yang perlu dipertimbangkan adalah metode prototyping. Pertimbangan memilih metode ini adalah jadwal pemakaian sistem informasi yang harus segera tidak dapat menunggu terlalu lama lagi. Metode prototyping banyak digunakan untuk mengembangkan sistem informasi yang harus segera dioperasikan, jika tidak permasalahan yang akan diselesaikan oleh sistem informasi sudah menjadi basi dan proses pengambilan keputusan menjadi terlambat. Jika sistem informasi tidak harus diselesaikan dan dioperasikan dengan segera, metode SDLC dapat dipilih.

Outsourcing

Outsourcing dalam arti luas adalah pembelian sejumlah barang atau jasa yang semula dapat dipenuhi oleh internal perusahaan tetapi sekarang dengan memanfaatkan mitra perusahaan sebagai pihak ketiga (O’Brien, 2005). Dengan definisi yang demikian luas dari outsourcing, konsep ini seringkali juga disamakan dengan konsep lain, seperti sub kontrak, supplier, proyek atau istilah lain lainnya, namun pada dasarnya adalah sama, yaitu pemindahan layanan kepada pihak lain. Dalam hal ini, layanan yang dimaksud adalah layanan teknologi informasi dan bidang lain yang sejenis.

Outsourcing digunakan untuk menjangkau fungsi teknologi informasi secara luas dengan mengontrak penyedia layanan eksternal. Outsourcing teknologi informasi juga dapat diterjemahkan sebagai penyediaan tenaga ahli yang profesional di bidang teknologi informasi untuk mendukung dan memberikan solusi guna meningkatkan kinerja perusahaan. Bentuk kontrak outsourcing ini sendiri dapat berupa: 1) menambahkan pengelolaan teknologi informasi dengan penambahan sumber daya dari pihak luar; 2) mengontrakkan sistem secara utuh pada pihak luar; dan 3) mengontrakkan hanya sistem operasional dan fasilitasnya.

Dari bentuk-bentuk kontrak diatas, outsourcing dapat dikategorikan menjadi 4 macam menurut The Computer Sciences Corporation (CSC) Index adalah sebagai berikut.

  1. Total outsourcing, outsourcing total pada seluruh komponen teknologi industri.
  2. Selective outsourcing, outsourcing hanya pada komponen-komponen tertentu.
  3. Transitional outsourcing, outsourcing yang fokus pada pembuatan sistem baru.
  4. Transformational outsourcing, outsourcing yang fokus pada pembangunan dan operasional dari sistem baru.

Sebenarnya outsourcing teknologi informasi dapat meliputi semua layanan teknologi informasi yang dibutuhkan perusahaan, Price Waterhouse mencantumkan list pekerjaan yang dapat di-outsourcing-kan, antara lain pemeliharaan aplikasi (applications maintenance), data center operations, end-user support, help desk, dukungan teknis (technical support), perancangan dan desain jaringan, network operations, systems analysis and design, business analysis, serta systems and technical strategy.

Melalui studi para ahli manajemen yang dilakukan sejak tahun 1991, Outsourcing Institute mengumpulkan sejumlah alasan mengapa perusahaan melakukan outsourcing terhadap aktivitasnya dan potensi keuntungan yang diharapkan diperoleh darinya (O’Brien, 2005). Alasan tersebut antara lain sebagai berikut.

  1. Meningkatkan fokus perusahaan.

Dengan menggunakan outsourcing, perusahaan dapat memusatkan diri pada masalah dan strategi utama dan umum, sementara pelaksanaan tugas seharai-hari dengan tingkat kepentingan yang kecil diserahkan pada pihak ketiga, sehingga perusahaan mampu meningkatkan kompetensi utamanya.

2.      Memanfaatkan kemampuan kelas dunia.

3.      Mempercepat keuntungan yang diperoleh dari re-engineering.

Re-engineering adalah pemikiran kembali secara fundamental mengenai proses bisnis, dengan tujuan untuk melakukan perbaikan tentang ukuran-ukuran keberhasilan yang sangat kritis bagi perusahaan, yaitu biaya, mutu, jasa dan kecepatan. Outsourcing menjadi salah satu cara dalam re-engineering untuk mendapatkan menfaat sekarang dengan cara menyerahkan tugas pada pihak ketiga yang sudah melakukan re-engineering dan menjasi unggul atas aktivitas-aktivitas tertentu.

4.      Membagi resiko

Outsourcing memungkinkan suatu pembagian suatu pembagian resiko, yang akan memperingan dan memperkecil resiko perusahaan. Apabila semua investasi dilakukan sendiri maka seluruh resiko juga ditanggung sendiri, sementara apabila beberapa aktivitas perusahaan dikontrakkan pada pihak ketiga maka resiko akan ditanggung bersama pula.

5.      Sumber daya sendiri dapat digunakan untuk kebutuhan lain

Outsourcing memungkinkan perusahaan untuk menggunakan sumber daya yang dimiliki secara terbatas tersebut untuk bidang-bidang kegiatan utama, sementara hal-hal kecil dapat dialihkan untuk menangani hal-hal ekstrim.

6.      Meningkatkan tersedianya dana kapital

Outsourcing juga bermanfaat untuk mengurangi investasi dana kapital kegiatan non core. Sebagai ganti dari melakukan investasi di bidang kegiatan tersebut, lebih baik mengontrakkan sesuai dengan kebutuhan yang dibiayai dengan dana operasi, bukan dana investasi.

7.      Menciptakan dana segar

Outsourcing sering kali dapat dilakukan tidak hanya mengontrakkan aktivitas tertentu pada pihak ketiga, tetapi juga disertai dengan penyerahan (penjualan/penyewaan) aset yang digunakan untuk melakukan aktivitas tersebut, dengan demikian dana segar akan masuk ke dalam perusahaan.

8.      Mengurangi dan mengendalikan biaya operasi

Outsourcing adalah memungkinkan untuk mengurangi dan mengendalikan biaya operasi. Pengurangan biaya ini dapat diperoleh dari  mitra outsource melalui berbagai hal, misalnya spesialisasi, struktur pembiayaan yang lebih rendah, economics of scale besar.

9.      Memperoleh sumber daya yang tidak dimiliki sendiri

Perusahaan dapat melakukan outsourcing untuk suatu aktivitas tertentu karena perusahaan tidak memiliki sumber daya yang dibutuhkan untuk melakukan aktivitas tersebut secara baik dan memadai.

10.  Memecahkan masalah yang sulit dikendalikan atau dikelola

Outsourcing dapat juga digunakan untuk mengatasi pengelolaan hal atau mengawasi fungsi yang sulit dikendalikan, seperti birokrasi ekstern yang sangat berbelit.

Penelitian yang dilakukan oleh Divisi Riset PPM Manajemen terhadap 44 perusahaan dari berbagai industri, 73 persen perusahaan di Indonesia menggunakan jasa outsourcing. Dari 73 persen perusahaan yang menggunakan jasa outsource terdapat lima alasan menggunakan outsourcing, yaitu agar perusahaan dapat fokus terhadap core business (33,75%), untuk menghemat biaya operasional (28,75%), turn over karyawan menjadi rendah (15%), modernisasi dunia usaha dan lainnya masing-masing sebesar 11,25%.

Outsourcing sendiri pada prakteknya tidak berarti tidak memiliki resiko sama sekali. Resiko yang terjadi hanya bisa diminimalisir, sehingga penting bagi perusahaan untuk melakukan self assesment terhadap kondisi perusahaannya. Baik keuangan, kesiapan hingga perencanaan jangka panjang kedepan.

Tabel 1. Keunggulan dan Kelemahan Outsourcing

Keunggulan Kelemahan
  1. Manajemen TI yang lebih baik, TI dikelola oleh pihak luar yang telah berpengalaman dalam bidangnya, dengan prosedur dan standar operasi yang terus menerus dikembangkan.
  2. Fleksibilitas untuk merepons perubahan TI yang cepat, perubahan arsitektur TI berikut sumber dayanya lebih mudah dilakukan.
  3. Akses pada pakar TI yang lebih baik.
  4. Biaya yang lebih murah.
  5. Fokus pada inti bisnis, perusahaan tidak perlu memikirkan bagaimana sistem TI-nya bekerja.
  6. Pengembangan karir yang lebih baik untuk pekerja TI.
  7. Sistem yang dibangun perusahaan outsource biasanya merupakan teknologi yang terbaru, sehingga dapat menjadi competitive advantage bagi perusahaan pengguna.
  8. Dapat disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan.
  9. Secara keseluruhan pendekatan outsourcing termasuk pendekatan dengan biaya yang rendah dibandingkan dengan insourcing, karena resiko kegagalan dapat diminimalisir.
  1. Permasalahan pada moral karyawan. Pada kasus yang sering terjadi, karyawan outsource yang dikirim ke perusahaan akan mengalami persoalan yang penanganannya lebih sulit dibandingkan karyawan tetap. Misalnya karena karyawan outsource merasa dirinya bukan bagian dari perusahaan pengguna.
  2. Kurangnya kontrol perusahaan pengguna dan terkunci oleh penyedia outsourcing melalui perjanjian kontrak.
  3. Terdapat jurang antara karyawan tetap dan karyawan outsource.
  4. Terjadi perubahan dalam gaya manajemen
  5. Proses seleksi kerja yang berbeda.
  6. Biaya lebih mahal dibandingkan mengembangkan sendiri.
  7. Ketergantungan dengan perusahaan lain, yaitu perusahaan pengembang sistem informasi akan terbentuk.
  8. Loss of flexibility (kontrak diatas 3 tahun), perubahan teknologi baru tidak bisa diadaptasi dengan cepat oleh perusahaan.
  9. Adanya hidden cost (pencarian biaya vendor, biaya transisi, dan biaya post outsourcing).

Outsourcing menjadi salah satu solusi yang paling sering digunakan untuk mengembangkan sistem informasi pada suatu perusahaan, karena dengan outsourcing suatu perusahaan akan lebih fokus pada bisnis inti. Namun, penggunaan outsourcing sebagai suatu solusi untuk implementasi sistem informasi sebaiknya mempertimbangkan beberapa faktor sebagai berikut.

  • Pahami jenis-jenis outsourcing yang ada, hal ini kerena jenis-jenis outsourcing cukup bervariasi sesuai sdengan skala Sistem Informasi yang akan dikembangkan.
  • Pastikan bahwa strategi outsourcing yang akan digunakan sesuai dengan strategi bisnis yang sedang atau akan dijalani.
  • Gunakan suatu tolak ukur untuk penilaian terhadap outsourcing yang akan dijalankan.
  • Pastikan relasi outsourcing dengan vendor akan dapat terjalin dan terkelola dengan baik.
  • Lakukan observasi sederhana terhadap perilaku organisasi atau perusahaan lain yang menggunakan outsourcing. Lihat apakah perusahaan atau organisasi tersebut telah berhasil melakukan outsourcing atau tidak. Informasi ini akan sangat berguna sebagai acuan untuk menggunakan outsourcing atau tidak tanpa harus melakukan survei yang mendalam terhadap vendor outsourcing maupun outsourcing itu sendiri.

Insourcing

Perusahaan yang menggunakan sistem insourcing akan merancang atau membuat sendiri sistem informasi yang dibutuhkan dan menentukan pelaksana sistem informasi. Di dalam insourcing, suatu perusahaan akan melaksanakan fungsi organisasi pihak lain, dengan memanfaatkan sumber daya (resource) dan potensi yang dimilikinya sehingga ada aliansi strategi baru. Perusahaan akan menggunakan sistem ini jika memiliki sumber daya yang memadai dan menginginkan pengawasan yang lebih terkontrol dibandingkan dengan outsource ke pihak lain.

Insourcing merupakan cara baru dan sangat efektif bagi perusahaan untuk mendorong pendapatan dengan meningkatkan penjualan. Program insourcing menciptakan Business Development Center (BDC) dengan memanfaatkan infrastruktur yang sudah ada, seperti PC, telepon dan lain-lain. Dengan menggunakan insourcing, perusahaan dapat mempersingkat waktu pengembangan.

Berdasarkan penelitian Mary Amity dan Shang Jin Wei dikatakan bahwa perusahaan di negara industri seperti Amerika dan Inggris lebih banyak menggunakan sistem insourcing dibandingkan dengan outsourcing, karena walaupun tenaga outsourcing berdasarkan hasil survei banyak yang menggunakannya dan dan angkanya terus meningkat tetap saja masih lebih rendah dibandingkan dengan insourcing.

Tabel 2. Kelebihan dan Kekurangan Insourcing

Keunggulan Kelemahan
  1. Sistem dapat diatur sesuai dengan kebutuhan perusahaan.
  2. Proses pengembangan sistem dapat lebih mudah dikelola dan dikontrol.
  3. Dapat dijadikan sebagai keunggulan kompetitif.
  4. Biaya pengembangannya relatif rendah karena hanya melibatkan pihak perusahaan.
  5. Sistem informasi yang dibutuhkan dapat segera dilakukan perbaikan untuk menyempurnakan sistem tersebut.
  6. Dokumentasi sistem lebih lengkap.
  7. Mudah dimodifikasi dan di-maintain karena dilakukan oleh karyawan internal perusahaan.
  8. Keamanan data lebih terjamin karena hanya melibatkan pihak perusahaan.
  9. Sistem informasi yang dikembangkan dapat diintegrasikan dengan lebih mudah dan lebih baik terhadap sistem yang sudah ada.
  10. Cocok untuk pengembangan sistem dan proyek yang kompleks.
  11. Pengambilan keputusan yang dapat dikendalikan oleh perusahaan sendiri tanpa adanya intervensi dari luar
  1. Sistem keterbatasan jumlah dan tingkat kemampuan SDM yang menguasai teknologi informasi.
  2. Membutuhkan waktu untuk pelatihan bagi operator dan programmer sehingga ada konsekuansi biaya yang harus dilakukan.
  3. Pengembangan sistem informasi membutuhkan waktu yang lama karena konsentrasi karyawan harus terbagi dengan pekerjaan rutin sehari-hari, sehingga pelaksanaannya menjadi kurang efektif dan efisien.
  4. Adanya demotivasi karyawan ditugaskan untuk mengembangkan sistem informasi bukan merupakan core competency pekerjaan mereka.
  5. Perlu waktu yang lama untuk mengembangkan sistem karena harus dimulai dari nol.
  6. Batasan biaya dan waktu yang tidak jelas karena tidak adanya target yang ditetapkan Kebocoran data yang dilakukan oleh karyawan IT, karena tidak ada reward and punishment yang jelas.
  7. Mengurangi fleksibilitas strategi.

Co Sourcing

Co sourcing adalah penempatan tenaga outsourcing di bawah pengawasan dan di dalam lingkungan perusahaan klien yang menggunakan jasa outsourcing. Co sourcing dapat diartikan sebagai usaha untuk mempekerjakan (hiring) para ahli atau staff untuk kepentingan perusahaan. Namun dalam arti luas dapat diartikan sebagai hubungan kerja sama dalam jangka waktu lama (long-term relationship) dan jika diasosiasikan dengan nilai-nilai luhur maka dapat dikategorikan pada partnership dari pada penyedia.

Pelaksanaan strategi co sourcing oleh suatu perusahaan pada dasarnya dipengaruhi oleh meningkatnya kegiatan bisnis suatu perusahaan dimana pada satu sisi perusahaan dihadapkan pada adanya keterbatasan sumber daya manusia internal dari segi kuantitas maupun kualitas knowledge yang dimilikinya dalam menangani sistem informasi manajemen tersebut secara baik (efektif dan efisien). Strategi ini lebih terarah pada performa bisnis yang dilaksanakan setiap perusahaan. Jika perusahaan memiliki economies of skill yang terbatas, maka outsourcing adalah alternatif yang baik. Sementara jika perusahaan memiliki economies of scale yang terbatas, maka co sourcing merupakan metode yang lebih cocok diterapkan.

Tabel 3. Keunggulan dan Kelemahan Teknologi Informasi Co Sourcing

Keunggulan Kelemahan
  1. Direct control, tim yang dibentuk berada di bawah arahan dan kontorl perusahaan.
  2. Quality, tim yang dibentuk memiliki standar kualitas dan kuantitas yang baik sesuai dengan kebutuhan perusahaan.
  3. SOP sesuai dengan kebutuhan perusahaan.
  4. Ownership dan accountability, tim yang dibentuk memiliki sense of ownership dan accountable dalam membangun sistem informasi.
  5. Business value, tim yang dibentuk dapat membangun knowledge berdasarkan perangkat lunak sistem operasi bisnis.
  6. Confidentiality, tim yang dibentuk merupakan kepanjangan dari karyawan perusahaan, sehingga kepercayaan perusahaan dapat dijaga.
  7. Learning curve, sarana pembelajaran bagi seluruh komponen perusahaan
  1. Keterbatsan jumlah dan tingkat kemampuan SDM yang menguasai teknologi informasi.
  2. Pengembangan sistem informasi membutuhkan waktu yang lama karena konsentrasi karyawan harus terbagi dengan pekerjaan rutin, sehingga pelaksanaannya menjadi kurang efektif dan efisien.
  3. Perubahan dalam teknologi informasi terjadi secara dan belum tentu perusahaan mampu melakukan adaptasi dengan cepat sehingga ada peluang teknologi yang digunakan kurang canggih.
  4. Membutuhkan waktu untuk pelatihan bagi operator dan programmer sehingga ada konsekuensi biaya yang harus dikeluarkan.
  5. Vendor adalah penerima utama dari pengetahuan yang dimiliki perusahaan, saat dimungkinkan terjadi transfer pengetahuan, perlu diwaspadai hilangnya pengetahuan tacit perusahaan.

PENUTUP

Sistem informasi memegang peranan penting dalam perusahaan dalam menyediakan informasi yang berguna bagi kepentingan operasi maupun manajemen. Oleh karena itu, banyak perusahaan yang memilki departemen teknologi informasi atau sistem informasi. Salah satu faktor dominan dalam pengelolaan sumberdaya informasi adalah bagaimana mengembangkan suatu Sistem Informasi Sumberdaya Informasi yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan.

Keputusan melakukan outsourcing, insourcing atau co sourcing merupakan sesuatu yang penting untuk kesuksesan ekonomi perusahaan karena keputusan tersebut mencerminkan batas kemampuan ekonomi dan karakteristik kompetitif dari sebuah perusahaan. Manajer harus mengidentifikasi aktivitas-aktivitas yang paling baik dari sumberdaya eksternal, serta mengetahui pengetahuan dalam ekonomi jangka panjang dan jangka pendek yang dihubungkan dengan keputusan melakukan outsourcing, insourcing atau co sourcing.

DAFTAR PUSTAKA

Adrianda A. 2010. Pengembangan sistem informasi melaluui outsourcing (keuntungan dan kelemahan dibandingkan insourcing). http://www.arlan.student.mb.ipb.ac.id [24 November 2010]

Akomode OJ, Less B, Irgens C. 1998. Cosntructing customised models and providing information for IT outsourcing decisions.J. of  Logistic Information Management 11(2), 114-127.

[BPKP] Badan Pengawas Keungan dan Pembangunan. 2007. Sistem Informasi Manajemen Edisi Keempat. Diklat Penjenjangan Auditor Ketua Tim. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pengawasan Badan Pengawas Keungan dan Pembangunan. pusdiklatwas.bpkp.go.id. [1 Desember 2010]

Dewanti, R. 2010. Introduction object oriented analysis & design. Bahan Mata Kuliah Aplikasi Komputer Program Pasca Sarjana, Universitas Gunadarma. Jakarta.

O’Brien JA. 2005. Introduction to Information System 12th ed. McGraw-Hill Companies, Inc.

McLeod RJ, Schell G. 2004. Management Information Systems 8th ed. New Jersey: Pretice Hall, Inc.

Mulyanto A. 2009. Sistem Informasi: konsep dan aplikasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Perkembangan Teknologi Jaringan Komputer

PENDAHULUAN

Hampir seluruh aspek kehidupan manusia saat ini tidak dapat dilepaskan dari teknologi, khususnya teknologi komputer. Hal ini dapat dilihat dari penggunaan komputer yang semakin meluas. Istilah komputer diambil dari bahasa Latin computare yang berarti menghitung (to compute atau to reckon). Pada intinya, komputer adalah suatu peralatan elektronik yang dapat menerima input, mengolah input, memberikan informasi, menggunakan suatu program yang tersimpan di memori komputer, dapat menyimpan program dan hasil pengolahan, serta bekerja secara otomatis.

Kemajuan teknologi komunikasi mempunyai pengaruh pada perkembangan pengolahan data. Data dari satu tempat dapat dikirim ke tempat lain dengan alat telekomunikasi. Pengiriman data melalui komputer dilakukan dengan menggunakan sistem transmisi elektronik, yang disebut dengan istilah komunikasi data (data communication). Dalam sistem komunikasi, istilah jaringan (network) digunakan bila paling sedikit dua atau lebih alat-alat dihubungkan satu dengan yang lainnya.

Jaringan komputer bukanlah sesuatu yang baru saat ini. Hampir di setiap perusahaan terdapat jaringan komputer untuk memperlancar arus informasi di dalam perusahaan tersebut. Internet yang mulai popular saat ini adalah suatu jaringan komputer raksasa yang merupakan jaringan komputer yang terhubung dan dapat saling berinteraksi. Hal ini dapat terjadi karena adanya perkembangan teknologi jaringan yang sangat pesat, sehingga dalam beberapa tahun saja jumlah pengguna jaringan komputer yang tergabung dalam internet berlipat ganda.

DASAR-DASAR JARINGAN KOMPUTER

Pengertian Jaringan Komputer

Jaringan komputer dapat diartikan sebagai sebuah rangkaian dua atau lebih komputer. Komputer-komputer ini akan dihubungkan satu sama lain dengan sebuah sistem komunikasi. Dengan jaringan komputer ini dimungkinkan bagi setiap komputer yang terjaring di dalamnya dapat saling tukar-menukar data, program, dan sumber daya komputer lainnya, seperti media penyimpanan, printer, dan lain-lain. Jaringan komputer yang menghubungkan komputer-komputer yang berada pada lokasi berbeda dapat juga dimanfaatkan untuk mengirim surat elektronik (e-mail), mengirim file data (upload) dan mengambil file data dari tempat lain (download), dan berbagai kegiatan akses informasi pada lokasi yang terpisah. Tujuan utama dari sebuah jaringan komputer adalah sharing resource (sumber daya), dimana sebuah komputer dapat memanfaatkan sumber daya yang dimiliki komputer lain yang berada dalam jaringan yang sama.

Perkembangan teknologi komunikasi data dan jaringan komputer dewasa ini sudah tidak terbatas lagi hanya pada komputer. Berbagai perangkat teknologi komunikasi yang hadir saat ini berkembang mengikuti perkembangan teknologi komputer, banyak diantaranya mengintegrasikan perangkat komputer, seperti mikroprosesor, memori, display, storage, dan teknologi komunikasi ke dalamnya. Suatu jaringan komputer pada umumnya terdiri atas:

  • Minimal dua buah komputer
  • Kartu jaringan (network interface card / NIC) pada setiap komputer
  • Medium Koneksi, yang menghubungkan kartu jaringan satu komputer ke komputer lainnya, biasa disebut sebagai medium transmisi data, bisa berupa kabel maupun nirkabel atau tanpa-kabel (wireless seperti radio, microwave, satelit, dan sebagainya).
  • Perangkat Lunak Sistem operasi jaringan (network operating system software / NOSS) yang berfungsi untuk melakukan pengelolaan sistem jaringan, misalnya: Microsoft Windows 2000 server, Microsoft Windows NT, Novell Netware, Linux, dan sebagainya.
  • Peralatan interkoneksi, seperti Hub, Bridge, Switch, Router, dan Gateway, apabila jaringan yang dibentuk semakin luas jangkauannya.

Topologi atau Bentuk Jaringan Komputer

Topologi suatu jaringan didasarkan pada cara penghubung sejumlah node atau sentral dalam membentuk suatu sistem jaringan. Setiap topologi memiliki karakteristik yang berbeda-beda dan masing-masing juga memiliki keuntungan dan kerugian. Topologi tidak tergantung kepada medianya dan setiap topologi biasanya menggunakan media sebagai berikut: (1) Twisted Pair; (2) Coaxial Cable; (3) Optical Cable; dan (4) Wireless. Topologi dibagi menjadi dua jenis yaitu, Physical Topology dan Logical Topology. Dibawah ini adalah jenis-jenis Physical Topology.

Topologi Jaringan Mesh

Topologi jaringan ini menerapkan hubungan antar sentral secara penuh. Jumlah saluran harus disediakan untuk membentuk jaringan Mesh adalah jumlah sentral dikurangi 1 (n-1, n = jumlah sentral). Tingkat kerumitan jaringan sebanding dengan meningkatnya jumlah sentral yang terpasang. Dengan demikian, disamping kurang ekonomis juga relatif mahal dalam pengoperasiannya.

Topologi Jaringan Bus

Pada topologi ini semua sentral dihubungkan secara langsung pada medium transmisi dengan konfigurasi yang disebut Bus. Transmisi sinyal dari suatu sentral tidak dialirkan secara bersamaan dalam dua arah. Hal ini berbeda sekali dengan yang terjadi pada topologi jaringan mesh atau bintang, yang pada kedua sistem tersebut dapat dilakukan komunikasi atau interkoneksi antar sentral secara bersamaan. topologi jaringan bus tidak umum digunakan untuk interkoneksi antar sentral, tetapi biasanya digunakan pada sistem jaringan komputer.

Topologi Jaringan Bintang (Star)

Dalam topologi jaringan bintang, salah satu sentral dibuat sebagai sentral pusat. Bila dibandingkan dengan sistem mesh, sistem ini mempunyai tingkat kerumitan jaringan yang lebih sederhana sehingga sistem menjadi lebih ekonomis, tetapi beban yang dipikul sentral pusat cukup berat. Dengan demikian kemungkinan tingkat kerusakan atau gangguan dari sentral ini lebih besar.

Topologi Extended Star

Topologi Extended Star merupakan perkembangan lanjutan dari topologi star dimana karakteristiknya tidak jauh berbeda dengan topologi star, yaitu:

  • Setiap node berkomunikasi langsung dengan subnode, sedangkan subnode berkomunikasi dengan central node. Traffic data mengalir dari node ke subnode lalu diteruskan ke central node dan kembali lagi.
  • Digunakan pada jaringan yang besar dan membutuhkan penghubung yang banyak atau melebihi dari kapasitas maksimal penghubung.
  • Jika satu kabel subnode terputus maka subnode yang lainnya tidak terganggu, tetapi apabila central node terputus maka semua node disetiap subnode akan terputus.
  • Tidak dapat digunakan kabel yang “lower grade” yang hanya menghandel satu traffic node, karena untuk berkomunikasi antara satu node ke node lainnya membutuhkan beberapa kali hops.

Topologi Jaringan Hirarki atau Pohon (Tree)

Topologi jaringan ini disebut juga sebagai topologi jaringan bertingkat. Topologi ini biasanya digunakan untuk interkoneksi antar sentral dengan hirarki yang berbeda. Untuk hirarki yang lebih rendah digambarkan pada lokasi yang rendah dan semakin keatas mempunyai hirarki semakin tinggi. Topologi ini dapat mensupport baik baseband maupun broadband signalling dan juga mendukung, baik contention maupun token bus access.

Topologi Jaringan Cincin (Ring)

Untuk membentuk jaringan cincin, setiap sentral harus dihubungkan seri satu dengan yang lain dan hubungan ini akan membentuk loop tertutup. Dalam sistem ini setiap sentral harus dirancang agar dapat berinteraksi dengan sentral yang berdekatan maupun berjauhan. Dengan demikian, kemampuan melakukan switching ke berbagai arah sentral. Keuntungan dari topologi jaringan ini, antara lain tingkat kerumitan jaringan rendah (sederhana), juga bila ada gangguan atau kerusakan pada suatu sentral maka aliran trafik dapat dilewatkan pada arah lain dalam sistem.

Yang paling banyak digunakan dalam jaringan komputer adalah jaringan bertipe bus dan pohon (tree), hal ini karena alasan kerumitan, kemudahan instalasi dan pemeliharaan serta harga yang harus dibayar. Tapi hanya jaringan bertipe pohon (tree) saja yang diakui kehandalannya karena putusnya salah satu kabel pada client, tidak akan mempengaruhi hubungan client yang lain.

Komponen Jaringan Komputer

Komponen dari suatu jaringan adalah node dan link. Node adalah titik yang dapat menerima input data ke dalam jaringan atau menghasilkan ouput informasi atau kedua-duanya. Node dapat berupa sebuah printer atau alat-alat cetak lainnya, atau suatu PC atau komputer mikro sampai komputer yang raksasa atau modem, sedangkan link adalah kanal atau jalur transmisi untuk arus informasi atau data diantara node. Link dapat berupa kabel, sistem gelombang mikro, laser, atau sistem satelit.

Jaringan yang masing-masing node terletak di lokasi yang berjauhan satu dengan yang lainnya dan menggunakan link, berupa jalur transmisi jarak jauh disebut dengan jaringan eksternal. Semnatara jaringan yang masing-masing node terpisah dalam jarak yang lokal dan menggunakan link berupa jalur transmisi kabel disebut sebagai jaringan lokal atau LAN (local area network).

Model / Tipe Jaringan Komputer

Dalam jaringan terdapat tiga buah peran yang dijalankan. Yang pertama adalah client. Peran ini hanya sebatas pengguna tetapi tidak menyediakan sumberdaya (sharing), informasi, dan lain-lain. Peran kedua adalah sebagai peer, yaitu client yang menyediakan sumberdaya untuk dibagi kepada client lain sekaligus memakai sumberdaya yang tersedia pada client yang lain (peer to peer). Peran yang terakhir adalah sebagai server, yaitu menyediakan sumberdaya secara maksimal untuk digunakan oleh client, tetapi tidak memakai sumberdaya yang disediakan oleh client. Dibawah ini akan dijelaskan jenis-jenis jaringan yang ada.

Model Peer to Peer

Peer artinya rekan sekerja. Setiap komputer di dalam jaringan peer mempunyai fungsi yang sama dan dapat berkomunikasi dengan komputer lain yang telah memberi izin. Secara sederhana, setiap komputer pada jaringan peer berfungsi sebagai client dan server sekaligus. Jaringan peer digunakan di sebuah kantor kecil dengan jumlah komputer sedikit, yaitu dibawah sepuluh workstation. Model ini cocok untuk jaringan kecil, seperti Windows for Workgroup. Dalam sistem jaringan ini, yang diutamakan adalah penggunaan program, data dan printer secara bersama-sama. Sistem jaringan ini juga dapat dipakai di rumah. Pemakai komputer cukup memasang netword card di kedua komputernya, kemudian dihubungkan dengan kabel yang khusus digunakan untuk sistem jaringan.

Keuntungan menggunakan jaringan peer

  1. Tidak memerlukan investasi tambahan untuk pembelian hardware dan software server.
  2. Tidak diperlukan seorang network administrator dan setup-nya mudah, serta membutuhkan biaya yang murah.

Kerugian menggunakan jaringan peer

  1. Sharing sumberdaya pada suatu komputer didalam jaringan akan sangat membebani komputer tersebut.
  2. Kesulitan dalam mengatur file-file. User harus menangani komputernya sendiri jika ditemui masalah. Keamanan model ini sangat lemah.

Model Client / Server

Model ini memisahkan secara jelas antara server, yaitu yang dapat memberikan layanan jaringan dan client, yaitu yang hanya menerima layanan. Beberapa komputer diatur (setting) sebagai server yang memberikan segala sumberdaya (resource) dari jaringan, seperti printer, modem, saluran dan lain-lain kepada komputer lain yang terkoneksi ke jaringan yang berfungsi sebagai client. Agar server dan client (dan diantara mereka) dapat berkomunikasi, server menggunakan aplikasi jaringan yang disebut server program, sementara client menggunakan client program untuk berkomunikasi dengan server program pada server.

Jaringan berbasis server atau client-server diartikan dengan adanya server didalam sebuah jaringan yang menyediakan mekanisme pengamanan dan pengelolaan jaringan tersebut. Jaringan ini terdiri dari banyak client dari satu atau lebih server. Client juga biasa disebut front-end yang meminta layanan, seperti penyimpanan dan pencetakan data ke printer jaringan, sedangkan server yang sering disebut back-end menyampaikan permintaan tersebut ke tujuan yang tepat.

Pada Windows NT, Windows 2000, dan Windows Server 2003, jaringan berbasis server diorganisasikan di dalam domain-domain. Domain adalah koleksi jaringan dan client yang saling berbagi informasi. Keamanan domain dan perizinan log on dikendalikan oleh server khusus yang disebut domain controlle. Terdapat satu pengendali domain utama atau Primary Domain Controller (PDC) dan beberapa domain controller pendukung atau Backup Domain Controller (BDC) yang membantu PDC pada waktu-waktu sibuk atau pada saat PDC tidak berfungsi karena alasan tertentu.

Primary Domain Controller juga diterapkan di dalam jaringan yang menggunakan server Linux. Software yang cukup andal menangani masalah ini adalah samba yang sekaligus dapat digunakan sebagai penyedia layanan file dan print yang membuat komputer Windows dapat mengakses file-file di mesin Linux dan begitu pula sebaliknya.

Keuntungan menggunakan jaringan berbasis server

  1. Media penyimpanan data yang terpusat memungkinkan semua user menyimpan dan menggunakan data di server dan memberikan kemudahan melakukan back-up data di saat kritis. Pemeliharaan data juga menjadi lebih mudah karena data tidak tersebar di beberapa komputer.
  2. Kemampuan server untuk menyatukan media penyimpanan di satu tempat akan menekan biaya pembangunan jaringan. Server yang telah dioptimalkan membuat jaringan berjalan lebih cepat daripada jaringan peer-to-peer. Membebaskan user dari pekerjaan mengelola jaringan.
  3. Kemudahan mengatur jumlah pengguna yang banyak. Kemampuan untuk sharing peralatan mahal, seperti printer laser. Mengurangi masalah keamanan karena pengguna harus memasukkan password untuk setiap peralatan jaringan yang akan digunakan.

Jaringan Hybrid

Jaringan hybrid memiliki semua yang terdapat pada dua tipe jaringan diatas. Hal ini berarti pengguna dalam jaringan dapat mengakses sumberdaya yang di-share oleh jaringan peer, dan dapat memanfaatkan seumber daya yang disediakan oleh server pada waktu yang sama. Keuntungan jaringan hybrid adalah sama dengan keuntungan menggunakan jaringan berbasis server dan berbasis peer. Sementara jaringan hybrid memiliki kekurangan seperti pada jaringan berbasis server.

Protokol Jaringan

Protokol jaringan adalah aturan-aturan atau tatacara yang digunakan dalam melaksanakan pertukaran data dalam sebuah jaringan. Protokol mengurusi segala hal dalam komunikasi data, mulai dari kemungkinan perbedaan format data yang dipertukarkan hingga ke masalah koneksi listrik dalam jaringan. Dalam suatu jaringan komputer, terjadi sebuah proses komunikasi antar entiti atau perangkat yang berlainan sistemnya. Entiti atau perangkat ini adalah segala sesuatu yang mampu menerima dan mengirim. Untuk berkomunikasi mengirim dan menerima antara dua entiti, dibutuhkan saling pengertian di antara kedua belah pihak.

Setiap jenis topologi jaringan memiliki protokol tertentu, misalnya pada topologi Bus dikenal protokol Ethernet, dan pada topologi Cincin dikenal protokol Token-Ring. Protokol standar komunikasi data yang menjadi acuan dalam perancangan hardware maupun software jaringan adalah Model Referensi OSI (Open System Interconnection) yang ditetapkan oleh organisasi acuan sedunia ISO (International Standard Organization). Menurut OSI, komunikasi antara 2 komponen dalam jaringan memerlukan 7 lapisan, mulai dari lapisan Aplikasi dimana pengguna memulai pengiriman datanya, hingga lapisan Fisik dimana data dalam bentuk sinyal listrik ditransmisikan melalui media komunikasi.

Protokol jaringan praktis yang digunakan dewasa ini pada jaringan Internet maupun Intranet adalah protokol Model Referensi TCP/IP (Transmission Control Protocol/Internet Protocol). Protokol TCP/IP ini merupakan penyederhanaan dari OSI dengan menggabungkan lapisan-lapisannya sehingga tersisa hanya lima lapisan.

IP merupakan protokol pada network layer yang bersifat:

  • Connectionless, yakni setiap paket data yang dikirim pada suatu saat akan melalui rute secara independen. Paket IP (datagram) akan melalui rute yang ditentukan oleh setiap router yang dilalui oleh datagram tersebut. Hal ini memungkinkan keseluruhan datagram tiba di tempat tujuan dalam urutan yang berbeda karena menempuh rute yang berbeda pula.
  • Unreliable atau ketidakandalan, yakni Protokol IP tidak menjamin datagram yang dikirim pasti sampai ke tempat tujuan. IP hanya akan melakukan best effort delivery, yakni melakukan usaha sebaik-baiknya agar paket yang dikirim tersebut sampai ke tujuan.

IP juga didesain untuk dapat melewati berbagai media komunikasi yang memiliki karakteristik dan kecepatan yang berbeda-beda. Pada jaringan Ethernet, panjang satu datagram akan lebih besar dari panjang datagram pada jaringan publik yang menggunakan media jaringan telepon, atau pada jaringan wireless. Perbedaan ini semata-mata untuk mencapai throughput yang baik pada setiap media. Pada umumnya, semakin cepat kemampuan transfer data pada media tersebut, semakin besar panjang datagram maksimum yang digunakan. Akibat dari perbedaan ini, datagram IP dapat mengalami fragmentasi ketika berpindah dari media kecepatan tinggi ke kecepatan rendah (misalnya dari LAN Ethernet 10 Mbps ke leased line menggunakan Point-to-Point Protocol dengan kecepatan 64 kbps). Pada router / host penerima, datagram yang ter-fragmen ini harus disatukan kembali sebelum diteruskan ke router berikutnya, atau ke lapisan transport pada host tujuan. Hal ini menambah waktu pemrosesan pada router dan menyebabkan delay.

Peralatan Jaringan Komputer

Ada beberapa peralatan yang digunakan dalam jaringan, peralatan ini sering digunakan di dalam perkantoran dan perusahan besar. Peralatan ini adalah:

1. Network Interface Card

Dalam memilih network interface card, ada beberapa pertimbangan yang harus diperhatikan. Pertimbangan-pertimbangan ini sangat penting untuk diperhatikan, yaitu:

  • Tipe jaringan seperti Ethernet LANs, Token Ring, atau Fiber Distributed Data Interface (FDDI).
  • Tipe Media seperti Twisted Pair, Coaxial, Fiber-Optic, dan Wireless.
  • Tipe Bus seperti ISA dan PCI.

2. PCMCIA Card

PCMCIA card adalah card jaringan yang digunakan untuk terhubung kedalam sebuah jaringan tanpa menggunakan kabel.

3. Modem

Modem atau Modul the Modulator adalah peralatan jaringan yang digunakan untuk terhubung ke jaringan internet menggunakan kabel telepon.

4. HUB/Switch

HUB atau Switch digunakan untuk menghubungkan setiap node dalam jaringan LAN. Peralatan ini sering digunakan pada topologi star dan extended star. Perbedaan antara HUB dan Switch adalah kecepatan transfer datanya, yaitu 10:100 Mbps.

5. Bridge

Bridge adalah peralatan jaringan yang digunakan untuk memperluas atau memecah jaringan. Bridge berfungsi untuk menghubungkan dan menggabungkan media jaringan yang tidak sama seperti kabel unshielded twisted pair (UTP) dan kabel fiber-optic, dan untuk menggabungkan arsitektur jaringan yang berbeda seperti Token Ring dan Ethernet. Bridge me-regenerate sinyal tetapi tidak melakukan konversi protokol, sehingga protokol jaringan yang sama (seperti TCP/IP) harus berjalan kepada kedua segemen jaringan yang terkoneksi ke bridge. Bridge dapat juga mendukung Simple Network Management Protocol (SNMP), serta memiliki kemampuan diagnosa jaringan.

Bridge hadir dalam tiga tipe dasar, yaitu Local, Remote, dan Wireless. Bridge local secara langsung menghubungkan Local Area Network (LAN). Bridge remote yang dapat digunakan untuk membuat sebuah Wide Area Network (WAN) menghubungkan dua atau lebih LAN. Sedangkan wireless bridge dapat digunakan untuk menggabungkan LAN atau menghubungkan mesin-mesin yang jauh ke suatu LAN.

6. Router

Router adalah peralatan jaringan yang digunakan untuk memperluas atau memecah jaringan dengan melanjutkan paket-paket dari satu jaringan logika ke jaringan yang lain. Router banyak digunakan di dalam internetwork yang besar menggunakan keluarga protokol TCP/IP dan untuk menghubungkan semua host TCP/IP dan LAN ke internet menggunakan dedicated leased line.

7. Crimping Tools

Crimping tools berguna untuk memotong, merapikan dan mengunci kabel UTP dalam melakukan instalasi Networking.

Jenis-Jenis Jaringan Komputer

Local Area Network (LAN) atau Jaringan Area Lokal

Sebuah LAN merupakan jaringan yang dibatasi oleh area yang relatif kecil. LAN umumnya dibatasi oleh area lingkungan, seperti sebuah perkantoran di sebuah gedung, atau sebuah sekolah yang berukuran tidak lebih dari sekitar satu kilometer persegi. Dalam beberapa model konfigurasi LAN, satu komputer biasanya dijadikan sebuah file server, yang digunakan untuk menyimpan perangkat lunak (software) yang mengatur aktivitas jaringan, ataupun sebagai perangkat lunak yang dapat digunakan oleh komputer-komputer yang terhubung ke dalam network, yang disebut workstation. Kemampuan workstation biasanya lebih rendah dari file server dan mempunyai aplikasi lain, selain aplikasi untuk jaringan, di dalam harddisk. Sebagian besar LAN menggunakan media kabel untuk menghubungkan antara satu komputer dengan komputer lainnya.

Metropolitan Area Network (MAN) atau Jaringan Area Metropolitan

Sebuah MAN, pada dasarnya merupakan versi LAN yang berukuran lebih besar dan biasanya menggunakan teknologi yang sama dengan LAN. MAN dapat mencakup kantor-kantor perusahaan yang letaknya berdekatan atau juga sebuah kota dan dapat dimanfaatkan untuk keperluan pribadi (swasta) atau umum. MAN mampu menunjang data dan suara, bahkan dapat berhubungan dengan jaringan televisi kabel.

Wide Area Network (WAN) atau Jaringan Area Skala Besar

WAN adalah jaringan yang dapat menjangkau daerah geografis yang luas, seringkali mencakup sebuah negara, bahkan benua. WAN biasanya menggunakan sarana satelit ataupun kabel bawah laut. Internet merupakan salah satu bentuk jaringan komputer yang termasuk dalam WAN.

Orang yang terhubung ke jaringan berharap dapat berkomunikasi dengan orang lain yang terhubung ke jaringan lainnya. Keinginan ini memerlukan hubungan antar jaringan yang seringkali tidak kompatibel dan berbeda. Oleh karena itu, diperlukan sebuah mesin (gateway) guna melakukan hubungan dan terjemahan yang diperlukan, baik perangkat keras maupun perangkat lunak. Kumpulan jaringan yang ter-interkoneksi inilah yang disebut dengan internet.

Fasilitas Jaringan

Beberapa fasilitas dalam jaringan komputer yang dapat digunakan, antara lain sharing, mapping, internet (browsing dan surat elektronik). Sharing digunakan untuk mengakses sumberdaya yang terdapat pada server atau suatu workstation, sehingga sumber daya ini bisa diakses oleh workstation lainnya dalam suatu jaringan. Sumberdaya ini dapat berupa printer, direktori, drive, CD-ROM, dan sebagainya.

Mapping berfungsi untuk memetakan suatu direktori pada server / workstation yang terhubung melalui jaringan, sehingga direktori tersebut seolah-olah menjadi drive lokal. Misalnya komputer B mengambil data dari komputer A, yakni direktori oet dengan cara mapping, sehingga direktori oet pada komputer B seolah-olah menjadi suatu drive lokal, yakni drive O:. Dengan demikian, komputer A disebut source, sementara komputer B disebut destination. Mapping hanya bisa dilakukan dengan syarat computer destination dan source terhubung melalui jaringan, dan direktori pada komputer source di-sharing.

Fasilitas populer lainnya adalah internet. Internet mulai berkembang pada tahun 1969, yang dikenal sebagai internetworking, yaitu hubungan komputer dari sistem yang berbeda-beda, termasuk jaringan dari sistem yang berbeda pula. Istilah Internet mulai resmi dikenal pada tahun 1980-an dengan mulai didefinisikannya protokol TCP/IP yang mengatur semua yang berkaitan dengan internet. Internet browser (disingkat sebagai browser) adalah perangkat lunak yang digunakan untuk mengakses internet. Browser-browser yang sering digunakan, diantaranya Netscape Navigator dari Netscape Corporation dan Internet Explorer dari Microsoft.

Surat elektronik (electronic mail atau e-mail) merupakan cara pengiriman surat atau pesan secara elektronis. E-mail telah mengubah cara-cara pengiriman surat konvensional menjadi lebih cepat dan tepat karena dengan e-mail hanya membutuhkan waktu dalam hitungan detik untuk mengirim pesan kepada seseorang. E-mail sangat cocok digunakan untuk korespondensi antara teman, kolega dan lain-lain yang tidak banyak menggunakan formalitas.

SEJARAH JARINGAN KOMPUTER

Konsep jaringan komputer lahir tahun 1940-an di AMerika dari sebuah proyek pengembangan komputer MODEL I di laboratorium Bell dan group riset di Harvard University, dipimpin oleh Profesor H. Aiken. Pada mulanya proyek tersebut hanya ingin memanfaatkan sebuah perangkat komputer yang harus dipakai bersama. Dalam rangka meningkatkan efisiensi kerja maka dibuat proses beruntun (Batch Processing), sehingga beberapa program dapat dijalan dalam sebuah komputer dengan kaidah antrian.

Pada tahun 1950-an, saat jenis computer mulai membesar hingga terciptanya super computer, maka sebuah computer mesti melayani beberapa terminal. Untuk itu, ditemukan konsep distribusi proses yang dikenal dengan nama TSS (Time Sharing System). Dengan demikian, bentuk jaringan (network) computer pertama kali diaplikasikan.

Selanjutnya, perkembangan jaringan komputer global dimulai pada 1969 ketika Departemen Pertahanan Amerika, U.S. Defense Advanced Research Projects Agency (DARPA) memutuskan untuk mengadakan riset tentang cara menghubungkan sejumlah komputer sehingga membentuk jaringan organik. Program riset ini dikenal dengan nama ARPANET. Pada tahun 1970, sudah lebih dari 10 komputer yang berhasil dihubungkan satu sama lain sehingga dapat saling berkomunikasi dan membentuk sebuah jaringan.

Pada tahun 1972, Roy Tomlinson berhasil menyempurnakan program e-mail yang diciptakan satu tahun sebelumnya untuk ARPANET. Program e-mail ini cukup mudah, sehingga langsung menjadi populer. Pada tahun yang sama, icon @ juga diperkenalkan sebagai lambang penting yang menunjukan “at” atau “pada”. Pada tahun 1973, jaringan komputer ARPANET mulai dikembangkan meluas ke luar Amerika Serikat. Komputer University College di London merupakan komputer pertama yang terdapat di luar Amerika, yang menjadi anggota jaringan ARPANET. Pada tahun yang sama, dua orang ahli computer, yakni Vinton Cerf dan Bob Kahn mempresentasikan sebuah gagasan yang lebih besar, yang menjadi cikal bakal pemikiran International Network (Internet).

Ide ini dipresentasikan untuk pertama kalinya di Universitas Sussex. Hari bersejarah berikutnya adalah tanggal 26 Maret 1976, ketika Ratu Inggris berhasil mengirimkan e-mail dari Royal Signals and Radar Establishment di Malvern. Setahun kemudian, sudah lebih dari 100 komputer yang bergabung di ARPANET membentuk sebuah jaringan atau network.

Pada tahun 1979, Tom Truscott, Jim Ellis dan Steve Bellovin menciptakan newsgroups pertama yang diberi nama USENET. Pada tahun 1981, France Telecom menciptakan gebrakan dengan meluncurkan telepon televisi pertama, dimana orang dapat saling menelepon sambil berhubungan dengan video link.

Karena komputer yang membentuk jaringan semakin hari semakin banyak, maka dibutuhkan sebuah protokol resmi yang diakui oleh semua jaringan. Pada tahun 1982, dibentuk Transmission Control Protocol (TCP) dan Internet Protocol (IP). Sementara itu, di Eropa muncul jaringan komputer tandingan yang dikenal dengan EUNET, yang menyediakan jasa jaringan komputer di negara-negara Belanda, Inggris, Denmark dan Swedia. Jaringan EUNET menyediakan jasa e-mail dan newsgroup USENET. Untuk menyeragamkan alamat di jaringan komputer yang ada, maka pada tahun 1984 diperkenalkan domain name system, yang kini dikenal dengan DNS. Komputer yang tersambung dengan jaringan yang ada sudah melebihi 1000 komputer lebih. Pada tahun 1987, jumlah komputer yang tersambung ke jaringan melonjak 10 kali lipat menjadi lebih dari 10.000 komputer.

Pada tahun 1988, Jarko Oikarinen dari Finland menemukan dan sekaligus memperkenalkan IRC (Internet Relay Chat). Setahun kemudian, jumlah komputer yang saling berhubungan kembali melonjak 10 kali lipat dalam setahun. Tidak kurang dari 100.000 komputer pada saat itu membentuk sebuah jaringan. Sementara, tahun 1990 adalah tahun yang paling bersejarah, ketika Tim Berners Lee menemukan program editor dan browser yang bisa menjelajah antara satu komputer dengan komputer lainnya, yang membentuk jaringan tersebut. Program inilah yang disebut www, atau World Wide Web.

Pada tahun 1992, komputer yang saling tersambung membentuk jaringan sudah melampaui  satu juta unit komputer, dan di tahun yang sama muncul istilah surfing (menjelajah). Pada tahun 1994, situs-situs dunia maya telah tumbuh menjadi 3.000 alamat halaman, dan untuk pertama kalinya virtual-shopping atau e-retail muncul di situs. Pada tahun yang sama, Yahoo! didirikan, yang juga sekaligus tahun kelahiran Netscape Navigator 1.0.

PERKEMBANGAN JARINGAN KOMPUTER DI INDONESIA

Surat kabar, buku, radio dan telelvisi sudah merupakan bagian kehidupan sehari-hari bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Dengan bertambah canggihnya teknolgi mikroelektronika, fax dan komputer akan mengambil porsi yang cukup besar dalam dunia informasi di Indonesia. Lima tahun yang lalu, nomor telepon di perkantoran yang khusus digunakan untuk fax masih sangat langka. Saat ini, nomor telepon fax sudah merupakan hal yang lazim digunakan di perkantoran. Hal ini menunjukkan bahwa informasi memegang peranan dalam beberapa bidang penting, seperti bidang usaha, industri dan pendidikan.

Kelancaran proses alih informasi dan pengolahan data akan sangat membantu perkembangan dunia usaha, industri dan pendidikan untuk banyak hal. Proses alih informasi dan pengolahan data akan lebih cepat jika berlangsung antar komputer dibandingkan dengan fax. Dengan demikian, bukan hal yang tidak mungkin jika saluran khusus untuk komunikasi antarkomputer (lebih dikenal sebagai jaringan komputer) merupakan hal yang lazim di masa mendatang.

Untuk memungkinkan komunikasi antarkomputer, prasarana jaringan komputer meliputi wilayah luas perlu dikembangkan. Beberapa alternatif telah dicoba dikembangkan, seperti SKDP (PT Telkom) dan tak lama lagi di beberapa daerah kecil akan beroperasi sistem ISDN (juga dikelola oleh PT Telkom). Alternatif lain yang cukup menarik untuk dikaji adalah jaringan komputer paket radio yang saat ini digunakan oleh tidak kurang dari 2400 orang di seluruh Indonesia, dengan komposisi pengguna sebagai berikut: 69 persen pengguna di perguruan tinngi, 18 persen pengguna di lembaga pemerintah, 4 persen pengguna di lembaga pemerintahan, 4 persen pengguna di lembaga swadaya masyarakat (LSM), dan 5 persen pengguna berada di industry / badan komersial.

Teknologi yang digunakan pada jaringan komputer merupakan perkembangan teknologi SKDP (PT Telkom). Protokol AX.25 digunakan pada link layer, yang merupakan perkembangan protokol X.25 (SKDP). Diatas protokol AX.25, digunakan protokol (Internet Protokol) yang memungkinkan integrasi berbagai jenis komputer ke dalam jaringan. Adapun aplikasi utama yang dijalankan dalam jaringan komputer ini adalah:

  1. Surat elektronik;
  2. Diskusi / konferensi secara elektronik;
  3. Pengiriman berkas / file secara elektronik;
  4. Akses pada distributed database; dan
  5. Fasilitas talknet untuk kerja pada komputer yang berjauhan.

Satu hal yang membedakan aplikasi jaringan komputer dengan teknologi lainnya adalah tidak adanya batasan dimensi ruang dan waktu. Sebagai contoh, diskusi / seminar / konferensi secara elektronik dapat berlangsung kapan saja, di mana saja bahkan tidak terikat pada batas-batas negara. Globalisasi sangat terasa dengan adanya jaringan komputer.

Tata cara komunikasi merupakan faktor penting pada pengkaitan jaringan komputer lokal di gedung-gedung. Pemilihan tata cara komunikasi dilakukan dengan memperhitungkan kompatibilitas dengan cara komnukasi yang umum digunakan. Saat ini, tata cara komunikasi TCP / IP merupakan standar yang digunakan di jaringan-jaringan komputer lokal di gedung-gedung. TCP / IP mulai dikembangkan sekitar sepuluh tahun lalu atas biaya angkatan bersenjata Amerika Serikat. TCP / IP mengatur pengkaitan berbagai komputer dalam jaringan yang terkait wilayah luas tanpa tergantung pada jenis saluran fisik yang digunakan. Keandalan jaringan diawasi secara seksama selama prosees komunikasi berlangsung. Berbagai penggunaan, seperti pengiriman surat elektronik dan file antarkomputer dapat dilakukan dengan mudah menggunakan TCP / IP. Jelas bahwa proses pengembangan jaringan komputer wilayah luas akan sangat dipermudah dengan mengadopsi tata cara komunikasi standar seperti TCP/IP.

TCP/IP saat ini tengah giat dipelajari dan dikembangkan, antara lain di Computer Network Research Group, PAU Mikroelektronika ITB. Keterangan cukup lengkap, berupa buku dan file di disket komputer, source code perangkat TCP / IP dapat diperoleh secara nonkomersial dari lembaga tersebut. Perangkat lunak beserta source code (file program) TCP/IP untuk komputer mikro dapat diperoleh secara nonkomersial untuk penggunaan di dunia pendidikan dan amatir radio. Pengembangan perangkat lunak ini tengah dilakukan di lembaga tersebut untuk membuka kemungkinan pengkaitan jaringan komputer lokal di berbagai gedung perkantoran menggunakan radio.

DAFTAR PUSTAKA

Nurwajianto. 2010. Dasar-Dasar Jaringan. www.nurwajianto.tk. [15 Juni 2010]

Ardiansyah D. 2003. Teknologi Jaringan Komputer. Kuliah Umum IlmuKomputer.com. yaquts@yahoo.com. [15 Juni 2010]

Sudirman I. 2003. Perkembangan Hardware Komputer. Kuliah Umum IlmuKomputer.com. ivan@wiraekabhakti.co.id. [15 Juni 2010]

Soemarwanto D. 2008. Jaringan Komputer dan Pemanfaatannya. Pelatihan Pemanfaatan TIK untuk Pembelanjaran Tingkat Nasional tahun 2008. Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta.

Purbo OW. 2010. Jaringan Komputer di Indonesia dan Perangkatnya. Computer Network Research Group Inter University Center on Microelektronics Institut Teknologi Bandung. Bandung

Anonim. 2010. Jaringan Komputer. www.teknik-informatika.com/jaringan-komputer/. [15 Juni 2010]

Hello world!

Welcome to Blogstudent.mb.ipb.ac.id Blogs. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!

Go to Top
Skip to toolbar