KEUNGGULAN DAN KELEMAHAN OUTSOURCE, INSOURCE DAN CO SOURCE

dalam Pengembangan dan Penerapan Sistem Informasi di Perusahaan


Pendahuluan

Sistem informasi memegang peranan yang cukup penting, terutama di era globalisasi saat ini.Tujuan sistem informasi itu sendiri adalah untuk mendukung operasi bisnis, keperluan manajerial dan keunggulan strategis. Informasi yang akurat, tepat waktu, relevan, dan valid, sehingga dalam pembuatan keputusan pengguna informasi akan merasa puas. Hampir seluruh sektor bisnis di dunia menggunakan sistem informasi dan senantiasa mengembangkan sistem informasi yang digunakan tersebut.

Pengembangan sistem informasi perusahaan pada dasarnya dapat dilakukan dengan tiga metode, yaitu outsourcing, insourcing dan co sourcing. Outsourcing berarti menyerahkan pengembangan sistem informasi pada pihak ketiga. Insourcing merupakan pengembangan sistem informasi yang dilakukan oleh Divisi Information Technology (IT) yang dimiliki perusahaan. Sementara Co sourcing merupakan pengembangan sistem informasi melalui kerjasama dengan pihak lain. Menurut Akomode et al. (1998), pengembangan sistem informasi melalui outsourcing memiliki beberapa keuntungan dibandingkan dengan insourcing dan co sourcing, yakni mempermudah perusahaan yang bisnis utamanya bukan bergerak di bidang sistem informasi dalam menghadapi tekanan perubahan teknologi. Namun, ketiga metode tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing dalam membangun sistem informasi sebuah perusahaan.

Sistem Informasi Manajemen

Sistem informasi adalah suatu sistem berbasis komputer (computer-based information system) yang menyediakan informasi bagi beberapa pengguna dengan kebutuhan yang serupa. Sistem informasi memuat berbagai informasi penting mengenai orang, tempat dan segala sesuatu yang ada di dalam atau di lingkungan sekitar organisasi. Dengan penggunaan teknologi informasi atau sistem informasi berbasis komputer, informasi yang dihasilkan dapat lebih akurat, berkualitas, dan tepat waktu, sehingga pengambilan keputusan dapat lebih efektif dan efisien (BPKP, 2007).

Sistem informasi terdiri dari lima sumber daya yang dikenal sebagai komponen sistem informasi. Kelima sumber daya tersebut memainkan peranan yang sangat penting dalam suatu sistem informasi, yaitu manusia, hardware, software, data, dan jaringan (O’Brien, 2005). Komponen tersebut digunakan oleh sistem informasi untuk menjalankan aktivitas dasar, yaitu masukan (input), pemrosesan (processing) dan keluaran (output) (McLeod & Schell, 2004), serta penyimpanan dan pengendalian. Aktivitas ini menghasilkan informasi yang dibutuhkan organisasi untuk pengambilan keputusan, pengendalian operasi, analisis masalah, menciptakan produk atau jasa baru.

Penerapan sistem informasi di dalam suatu organisasi dimaksudkan untuk memberikan dukungan informasi yang dibutuhkan khususnya oleh para pengguna informasi dari berbagai tingkatan manajemen, yang biasa disebut sebagai Sistem Informasi Manajemen (BPKP 2007). Sistem informasi manajemen cenderung berhubungan dengan pengolahan informasi yang berbasis komputer tergantung pada teknologi informasi yang digunakan dan strategi perusahaan untuk mencapai tujuan yang akan dicapai organisasi. Sistem ini terpadu dalam mendukung fungsi operasi, manajemen dan pengambilan keputusan dalam organisasi, dengan menggunakan hardware, software, prosedur manual, model manajemen keputusan, serta database. Sistem informasi manajemen dikatakan profesional jika mampu menyajikan informasi secara tepat, cepat, aman, dan akurat. Hal ini dapat terwujud dengan ditunjang oleh sumber daya manusia yang profesional.

Pengembangan Sistem Informasi Manajemen

Proses bisnis yang berjalan di dalam organisasi semakin lama semakin berkembang. Oleh karena itu, pengembangan sistem informasi merupakan suatu keharusan bagi sebuah organisasi dalam menjalankan aktivitas bisnisnya. Terkait dengan hal ini, pengelolaan sumber daya informasi memegang peranan yang sangat penting dala menunjang kesuksesan sebuah bisnis. Pengelolaan sumber daya informasi di perusahaan biasanya disebut dengan Sistem Informasi Sumber Daya Informasi (Information Resources Information System).

Faktor yang paling penting dalam pengelolaan sumber daya informasi adalah bagaimanan mengembangkan sistem informasi sumber daya informasi yang akan digunakan. Dalam hal ini, berarti organisasi menentukan bagaimana bentuk sistem yang dibutuhkan meliputi kebutuhan akan perangkat keras, perangkat lunak dan pelaksanaan serta SOP (Standard Operating Procedures) yang akan digunakan. Pendekatan yang dapat digunakan dalam proses pengembangan sistem informasi (Adrianda, 2010), diantaranya sebagai berikut.

System Development Life Cycle

Pengembangan sistem informasi merupakan proses atau prosedur yang harus diikuti untuk melaksanakan seluruh langkah dalam menganalisis, merancang, mengimplementasikan, dan memelihara sistem informasi. Proses-proses pengembangan ini dikenal dengan daur hidup pengembangan sistem atau System Development Life Cycle (SDLC). SDLC yang paling terkenal adalah model klasik yang disebut dengan model waterfall (Mulyanto, 2009).

Prototype Model

Model prototipe sering digunakan untuk membantu dalam membangun sistem informasi mengingat klien hanya memberikan informasi yang bersifat umum mengenai sistem yang akan dibangun. Langkah pertama yang dilakukan dalam membangun model prototipe adalah pengumpulan kebutuhan (bersifat umum). Langkah kedua adalah melakukan perancangan secara cepat dan sederhana yang akan dijadikan sebagai dasar pembuatan prototipe. Langkah terakhir, klien dapat mengevaluasi prototipe untuk menemukan kekurangan prototipe tersebut, kemudian menentukan kebutuhan-kebutuhan berikutnya yang bersifat lebih khusus. Langkah-langkah tersebut dilakukan berulang-ulang hingga kebutuhan klien dapat terpenuhi (Mulyanto, 2009). Kelemahan metode ini, yaitu tidak mudah diaplikasikan pada sistem yang relatif besar (Adrianda, 2010).

Rapid Application Development

Rapid Application Development (RAD) atau Rapid Prototyping adalah model proses pembangunan perangkat lunak yang tergolong dalam teknik incremental (bertingkat) pada siklus pembangunan pendek, singkat dan cepat. User diikutsertakan dalam proses desain sehingga lebih mudah untuk diimplementasikan. Kelemahan sistem ini adalah terlalu sulit dibuat dalam waktu yang singkat, dan pada akhirnya mengakibatkan kualitas sistem yang dihasilkan menjadi rendah (Adrianda, 2010).

Object Oriented Analysis and Development

Bermula dari Object Oriented Programming (OOP) yang berkembang menjadi Object Oriented Design (OOD) dan akhirnya menjadi Object Oriented Analysis (OOA). Keuntungannya teknik ini adalah dari analisis, desain sampai ke implementasi menggunakan notasi yang sama. Integrasi data dan pemrosesan selama dalam proses desain sistem akan menghasilkan sistem yang memiliki kualitas yang lebih baik serta mudah untuk dimodifikasi, memberikan informasi yang jelas tentang konteks dari sistem dan mengurangi biaya maintenance. Saat ini semakin banyak organisasi yang mengimplementasikan metoda Object Oriented (Dewanti, 2010).

End User Development

Faktor yang harus diperhatikan dalam pemilihan alternatif ini adalah kemampuan yang harus dimiliki pelaksana sistem informasi. Pelaksana harus mengembangkan sendiri aplikasi yang dibutuhkan, seperti menggunakan Microsoft Excel dan Microsoft Access. Manfaat yang diperoleh dari alternatif ini adalah: 1) penghematan biaya; 2) waktu pengembangan sistem informasi yang singkat; 3) mudah untuk melakukan modifikasi; 4) tanggung jawab pelaksana sistem informasi yang lebih besar; dan mengurangi beban kerja pelaksana sistem informasi.

Pemilihan Metode Pengembangan Sistem Informasi

Prioritas pertama pemilihan metode pengembangan sistem informasi umumnya adalah paket. Ketersediaan paket merupakan faktor penentu apakah membeli paket atau mengembangkan sistem informasi sendiri.

Jika paket tidak tersedia, prioritas kedua biasanya jatuh pada outsourcing. Penentuan apakah akan dikerjakan dan dioperasikan oleh pihak ketiga (outsourcing) atau dikembangkan sendiri (insourcing) ditentukan oleh faktor kemampuan sumber daya (resources) dari departemen sistem teknologi informasi. Jika departemen sistem informasi tidak mempunyai sumber daya yang baik, misalnya tidak mempunyai analis dan pemrogram yang berkualitas dan tidak mempunyai teknologi yang memadai, pilihan biasanya jatuh pada outsourcing.

Jika keputusan akan dikembangkan secara internal (insourcing), biasanya yang dipertimbangkan selanjutnya adalah metode pengembangan sistem informasi oleh pemakai sistem (end user development atau end user computing). Faktor penentu pengembangan sistem informasi oleh pemakai sistem adalah dampak dari sistem informasi yang akan dikembangkan. Jika dampaknya sempit, yaitu hanya pada individu pemakai sistem yang sekaligus pengembang sistem itu saja, maka end user computing dapat dilakukan. Sebaliknya, jika dampaknya luas sampai ke organisasi, pengembangan sistem dengan end user computing akan berbahaya, karena jika terjadi kesalahan dampaknya akan berpengaruh pada pemakai sistem lainnya pada organisasi secara luas.

Metode berikutnya yang perlu dipertimbangkan adalah metode prototyping. Pertimbangan memilih metode ini adalah jadwal pemakaian sistem informasi yang harus segera tidak dapat menunggu terlalu lama lagi. Metode prototyping banyak digunakan untuk mengembangkan sistem informasi yang harus segera dioperasikan, jika tidak permasalahan yang akan diselesaikan oleh sistem informasi sudah menjadi basi dan proses pengambilan keputusan menjadi terlambat. Jika sistem informasi tidak harus diselesaikan dan dioperasikan dengan segera, metode SDLC dapat dipilih.

Outsourcing

Outsourcing dalam arti luas adalah pembelian sejumlah barang atau jasa yang semula dapat dipenuhi oleh internal perusahaan tetapi sekarang dengan memanfaatkan mitra perusahaan sebagai pihak ketiga (O’Brien, 2005). Dengan definisi yang demikian luas dari outsourcing, konsep ini seringkali juga disamakan dengan konsep lain, seperti sub kontrak, supplier, proyek atau istilah lain lainnya, namun pada dasarnya adalah sama, yaitu pemindahan layanan kepada pihak lain. Dalam hal ini, layanan yang dimaksud adalah layanan teknologi informasi dan bidang lain yang sejenis.

Outsourcing digunakan untuk menjangkau fungsi teknologi informasi secara luas dengan mengontrak penyedia layanan eksternal. Outsourcing teknologi informasi juga dapat diterjemahkan sebagai penyediaan tenaga ahli yang profesional di bidang teknologi informasi untuk mendukung dan memberikan solusi guna meningkatkan kinerja perusahaan. Bentuk kontrak outsourcing ini sendiri dapat berupa: 1) menambahkan pengelolaan teknologi informasi dengan penambahan sumber daya dari pihak luar; 2) mengontrakkan sistem secara utuh pada pihak luar; dan 3) mengontrakkan hanya sistem operasional dan fasilitasnya.

Dari bentuk-bentuk kontrak diatas, outsourcing dapat dikategorikan menjadi 4 macam menurut The Computer Sciences Corporation (CSC) Index adalah sebagai berikut.

  1. Total outsourcing, outsourcing total pada seluruh komponen teknologi industri.
  2. Selective outsourcing, outsourcing hanya pada komponen-komponen tertentu.
  3. Transitional outsourcing, outsourcing yang fokus pada pembuatan sistem baru.
  4. Transformational outsourcing, outsourcing yang fokus pada pembangunan dan operasional dari sistem baru.

Sebenarnya outsourcing teknologi informasi dapat meliputi semua layanan teknologi informasi yang dibutuhkan perusahaan, Price Waterhouse mencantumkan list pekerjaan yang dapat di-outsourcing-kan, antara lain pemeliharaan aplikasi (applications maintenance), data center operations, end-user support, help desk, dukungan teknis (technical support), perancangan dan desain jaringan, network operations, systems analysis and design, business analysis, serta systems and technical strategy.

Melalui studi para ahli manajemen yang dilakukan sejak tahun 1991, Outsourcing Institute mengumpulkan sejumlah alasan mengapa perusahaan melakukan outsourcing terhadap aktivitasnya dan potensi keuntungan yang diharapkan diperoleh darinya (O’Brien, 2005). Alasan tersebut antara lain sebagai berikut.

  1. Meningkatkan fokus perusahaan.

Dengan menggunakan outsourcing, perusahaan dapat memusatkan diri pada masalah dan strategi utama dan umum, sementara pelaksanaan tugas seharai-hari dengan tingkat kepentingan yang kecil diserahkan pada pihak ketiga, sehingga perusahaan mampu meningkatkan kompetensi utamanya.

2.      Memanfaatkan kemampuan kelas dunia.

3.      Mempercepat keuntungan yang diperoleh dari re-engineering.

Re-engineering adalah pemikiran kembali secara fundamental mengenai proses bisnis, dengan tujuan untuk melakukan perbaikan tentang ukuran-ukuran keberhasilan yang sangat kritis bagi perusahaan, yaitu biaya, mutu, jasa dan kecepatan. Outsourcing menjadi salah satu cara dalam re-engineering untuk mendapatkan menfaat sekarang dengan cara menyerahkan tugas pada pihak ketiga yang sudah melakukan re-engineering dan menjasi unggul atas aktivitas-aktivitas tertentu.

4.      Membagi resiko

Outsourcing memungkinkan suatu pembagian suatu pembagian resiko, yang akan memperingan dan memperkecil resiko perusahaan. Apabila semua investasi dilakukan sendiri maka seluruh resiko juga ditanggung sendiri, sementara apabila beberapa aktivitas perusahaan dikontrakkan pada pihak ketiga maka resiko akan ditanggung bersama pula.

5.      Sumber daya sendiri dapat digunakan untuk kebutuhan lain

Outsourcing memungkinkan perusahaan untuk menggunakan sumber daya yang dimiliki secara terbatas tersebut untuk bidang-bidang kegiatan utama, sementara hal-hal kecil dapat dialihkan untuk menangani hal-hal ekstrim.

6.      Meningkatkan tersedianya dana kapital

Outsourcing juga bermanfaat untuk mengurangi investasi dana kapital kegiatan non core. Sebagai ganti dari melakukan investasi di bidang kegiatan tersebut, lebih baik mengontrakkan sesuai dengan kebutuhan yang dibiayai dengan dana operasi, bukan dana investasi.

7.      Menciptakan dana segar

Outsourcing sering kali dapat dilakukan tidak hanya mengontrakkan aktivitas tertentu pada pihak ketiga, tetapi juga disertai dengan penyerahan (penjualan/penyewaan) aset yang digunakan untuk melakukan aktivitas tersebut, dengan demikian dana segar akan masuk ke dalam perusahaan.

8.      Mengurangi dan mengendalikan biaya operasi

Outsourcing adalah memungkinkan untuk mengurangi dan mengendalikan biaya operasi. Pengurangan biaya ini dapat diperoleh dari  mitra outsource melalui berbagai hal, misalnya spesialisasi, struktur pembiayaan yang lebih rendah, economics of scale besar.

9.      Memperoleh sumber daya yang tidak dimiliki sendiri

Perusahaan dapat melakukan outsourcing untuk suatu aktivitas tertentu karena perusahaan tidak memiliki sumber daya yang dibutuhkan untuk melakukan aktivitas tersebut secara baik dan memadai.

10.  Memecahkan masalah yang sulit dikendalikan atau dikelola

Outsourcing dapat juga digunakan untuk mengatasi pengelolaan hal atau mengawasi fungsi yang sulit dikendalikan, seperti birokrasi ekstern yang sangat berbelit.

Penelitian yang dilakukan oleh Divisi Riset PPM Manajemen terhadap 44 perusahaan dari berbagai industri, 73 persen perusahaan di Indonesia menggunakan jasa outsourcing. Dari 73 persen perusahaan yang menggunakan jasa outsource terdapat lima alasan menggunakan outsourcing, yaitu agar perusahaan dapat fokus terhadap core business (33,75%), untuk menghemat biaya operasional (28,75%), turn over karyawan menjadi rendah (15%), modernisasi dunia usaha dan lainnya masing-masing sebesar 11,25%.

Outsourcing sendiri pada prakteknya tidak berarti tidak memiliki resiko sama sekali. Resiko yang terjadi hanya bisa diminimalisir, sehingga penting bagi perusahaan untuk melakukan self assesment terhadap kondisi perusahaannya. Baik keuangan, kesiapan hingga perencanaan jangka panjang kedepan.

Tabel 1. Keunggulan dan Kelemahan Outsourcing

Keunggulan Kelemahan
  1. Manajemen TI yang lebih baik, TI dikelola oleh pihak luar yang telah berpengalaman dalam bidangnya, dengan prosedur dan standar operasi yang terus menerus dikembangkan.
  2. Fleksibilitas untuk merepons perubahan TI yang cepat, perubahan arsitektur TI berikut sumber dayanya lebih mudah dilakukan.
  3. Akses pada pakar TI yang lebih baik.
  4. Biaya yang lebih murah.
  5. Fokus pada inti bisnis, perusahaan tidak perlu memikirkan bagaimana sistem TI-nya bekerja.
  6. Pengembangan karir yang lebih baik untuk pekerja TI.
  7. Sistem yang dibangun perusahaan outsource biasanya merupakan teknologi yang terbaru, sehingga dapat menjadi competitive advantage bagi perusahaan pengguna.
  8. Dapat disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan.
  9. Secara keseluruhan pendekatan outsourcing termasuk pendekatan dengan biaya yang rendah dibandingkan dengan insourcing, karena resiko kegagalan dapat diminimalisir.
  1. Permasalahan pada moral karyawan. Pada kasus yang sering terjadi, karyawan outsource yang dikirim ke perusahaan akan mengalami persoalan yang penanganannya lebih sulit dibandingkan karyawan tetap. Misalnya karena karyawan outsource merasa dirinya bukan bagian dari perusahaan pengguna.
  2. Kurangnya kontrol perusahaan pengguna dan terkunci oleh penyedia outsourcing melalui perjanjian kontrak.
  3. Terdapat jurang antara karyawan tetap dan karyawan outsource.
  4. Terjadi perubahan dalam gaya manajemen
  5. Proses seleksi kerja yang berbeda.
  6. Biaya lebih mahal dibandingkan mengembangkan sendiri.
  7. Ketergantungan dengan perusahaan lain, yaitu perusahaan pengembang sistem informasi akan terbentuk.
  8. Loss of flexibility (kontrak diatas 3 tahun), perubahan teknologi baru tidak bisa diadaptasi dengan cepat oleh perusahaan.
  9. Adanya hidden cost (pencarian biaya vendor, biaya transisi, dan biaya post outsourcing).

Outsourcing menjadi salah satu solusi yang paling sering digunakan untuk mengembangkan sistem informasi pada suatu perusahaan, karena dengan outsourcing suatu perusahaan akan lebih fokus pada bisnis inti. Namun, penggunaan outsourcing sebagai suatu solusi untuk implementasi sistem informasi sebaiknya mempertimbangkan beberapa faktor sebagai berikut.

  • Pahami jenis-jenis outsourcing yang ada, hal ini kerena jenis-jenis outsourcing cukup bervariasi sesuai sdengan skala Sistem Informasi yang akan dikembangkan.
  • Pastikan bahwa strategi outsourcing yang akan digunakan sesuai dengan strategi bisnis yang sedang atau akan dijalani.
  • Gunakan suatu tolak ukur untuk penilaian terhadap outsourcing yang akan dijalankan.
  • Pastikan relasi outsourcing dengan vendor akan dapat terjalin dan terkelola dengan baik.
  • Lakukan observasi sederhana terhadap perilaku organisasi atau perusahaan lain yang menggunakan outsourcing. Lihat apakah perusahaan atau organisasi tersebut telah berhasil melakukan outsourcing atau tidak. Informasi ini akan sangat berguna sebagai acuan untuk menggunakan outsourcing atau tidak tanpa harus melakukan survei yang mendalam terhadap vendor outsourcing maupun outsourcing itu sendiri.

Insourcing

Perusahaan yang menggunakan sistem insourcing akan merancang atau membuat sendiri sistem informasi yang dibutuhkan dan menentukan pelaksana sistem informasi. Di dalam insourcing, suatu perusahaan akan melaksanakan fungsi organisasi pihak lain, dengan memanfaatkan sumber daya (resource) dan potensi yang dimilikinya sehingga ada aliansi strategi baru. Perusahaan akan menggunakan sistem ini jika memiliki sumber daya yang memadai dan menginginkan pengawasan yang lebih terkontrol dibandingkan dengan outsource ke pihak lain.

Insourcing merupakan cara baru dan sangat efektif bagi perusahaan untuk mendorong pendapatan dengan meningkatkan penjualan. Program insourcing menciptakan Business Development Center (BDC) dengan memanfaatkan infrastruktur yang sudah ada, seperti PC, telepon dan lain-lain. Dengan menggunakan insourcing, perusahaan dapat mempersingkat waktu pengembangan.

Berdasarkan penelitian Mary Amity dan Shang Jin Wei dikatakan bahwa perusahaan di negara industri seperti Amerika dan Inggris lebih banyak menggunakan sistem insourcing dibandingkan dengan outsourcing, karena walaupun tenaga outsourcing berdasarkan hasil survei banyak yang menggunakannya dan dan angkanya terus meningkat tetap saja masih lebih rendah dibandingkan dengan insourcing.

Tabel 2. Kelebihan dan Kekurangan Insourcing

Keunggulan Kelemahan
  1. Sistem dapat diatur sesuai dengan kebutuhan perusahaan.
  2. Proses pengembangan sistem dapat lebih mudah dikelola dan dikontrol.
  3. Dapat dijadikan sebagai keunggulan kompetitif.
  4. Biaya pengembangannya relatif rendah karena hanya melibatkan pihak perusahaan.
  5. Sistem informasi yang dibutuhkan dapat segera dilakukan perbaikan untuk menyempurnakan sistem tersebut.
  6. Dokumentasi sistem lebih lengkap.
  7. Mudah dimodifikasi dan di-maintain karena dilakukan oleh karyawan internal perusahaan.
  8. Keamanan data lebih terjamin karena hanya melibatkan pihak perusahaan.
  9. Sistem informasi yang dikembangkan dapat diintegrasikan dengan lebih mudah dan lebih baik terhadap sistem yang sudah ada.
  10. Cocok untuk pengembangan sistem dan proyek yang kompleks.
  11. Pengambilan keputusan yang dapat dikendalikan oleh perusahaan sendiri tanpa adanya intervensi dari luar
  1. Sistem keterbatasan jumlah dan tingkat kemampuan SDM yang menguasai teknologi informasi.
  2. Membutuhkan waktu untuk pelatihan bagi operator dan programmer sehingga ada konsekuansi biaya yang harus dilakukan.
  3. Pengembangan sistem informasi membutuhkan waktu yang lama karena konsentrasi karyawan harus terbagi dengan pekerjaan rutin sehari-hari, sehingga pelaksanaannya menjadi kurang efektif dan efisien.
  4. Adanya demotivasi karyawan ditugaskan untuk mengembangkan sistem informasi bukan merupakan core competency pekerjaan mereka.
  5. Perlu waktu yang lama untuk mengembangkan sistem karena harus dimulai dari nol.
  6. Batasan biaya dan waktu yang tidak jelas karena tidak adanya target yang ditetapkan Kebocoran data yang dilakukan oleh karyawan IT, karena tidak ada reward and punishment yang jelas.
  7. Mengurangi fleksibilitas strategi.

Co Sourcing

Co sourcing adalah penempatan tenaga outsourcing di bawah pengawasan dan di dalam lingkungan perusahaan klien yang menggunakan jasa outsourcing. Co sourcing dapat diartikan sebagai usaha untuk mempekerjakan (hiring) para ahli atau staff untuk kepentingan perusahaan. Namun dalam arti luas dapat diartikan sebagai hubungan kerja sama dalam jangka waktu lama (long-term relationship) dan jika diasosiasikan dengan nilai-nilai luhur maka dapat dikategorikan pada partnership dari pada penyedia.

Pelaksanaan strategi co sourcing oleh suatu perusahaan pada dasarnya dipengaruhi oleh meningkatnya kegiatan bisnis suatu perusahaan dimana pada satu sisi perusahaan dihadapkan pada adanya keterbatasan sumber daya manusia internal dari segi kuantitas maupun kualitas knowledge yang dimilikinya dalam menangani sistem informasi manajemen tersebut secara baik (efektif dan efisien). Strategi ini lebih terarah pada performa bisnis yang dilaksanakan setiap perusahaan. Jika perusahaan memiliki economies of skill yang terbatas, maka outsourcing adalah alternatif yang baik. Sementara jika perusahaan memiliki economies of scale yang terbatas, maka co sourcing merupakan metode yang lebih cocok diterapkan.

Tabel 3. Keunggulan dan Kelemahan Teknologi Informasi Co Sourcing

Keunggulan Kelemahan
  1. Direct control, tim yang dibentuk berada di bawah arahan dan kontorl perusahaan.
  2. Quality, tim yang dibentuk memiliki standar kualitas dan kuantitas yang baik sesuai dengan kebutuhan perusahaan.
  3. SOP sesuai dengan kebutuhan perusahaan.
  4. Ownership dan accountability, tim yang dibentuk memiliki sense of ownership dan accountable dalam membangun sistem informasi.
  5. Business value, tim yang dibentuk dapat membangun knowledge berdasarkan perangkat lunak sistem operasi bisnis.
  6. Confidentiality, tim yang dibentuk merupakan kepanjangan dari karyawan perusahaan, sehingga kepercayaan perusahaan dapat dijaga.
  7. Learning curve, sarana pembelajaran bagi seluruh komponen perusahaan
  1. Keterbatsan jumlah dan tingkat kemampuan SDM yang menguasai teknologi informasi.
  2. Pengembangan sistem informasi membutuhkan waktu yang lama karena konsentrasi karyawan harus terbagi dengan pekerjaan rutin, sehingga pelaksanaannya menjadi kurang efektif dan efisien.
  3. Perubahan dalam teknologi informasi terjadi secara dan belum tentu perusahaan mampu melakukan adaptasi dengan cepat sehingga ada peluang teknologi yang digunakan kurang canggih.
  4. Membutuhkan waktu untuk pelatihan bagi operator dan programmer sehingga ada konsekuensi biaya yang harus dikeluarkan.
  5. Vendor adalah penerima utama dari pengetahuan yang dimiliki perusahaan, saat dimungkinkan terjadi transfer pengetahuan, perlu diwaspadai hilangnya pengetahuan tacit perusahaan.

PENUTUP

Sistem informasi memegang peranan penting dalam perusahaan dalam menyediakan informasi yang berguna bagi kepentingan operasi maupun manajemen. Oleh karena itu, banyak perusahaan yang memilki departemen teknologi informasi atau sistem informasi. Salah satu faktor dominan dalam pengelolaan sumberdaya informasi adalah bagaimana mengembangkan suatu Sistem Informasi Sumberdaya Informasi yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan.

Keputusan melakukan outsourcing, insourcing atau co sourcing merupakan sesuatu yang penting untuk kesuksesan ekonomi perusahaan karena keputusan tersebut mencerminkan batas kemampuan ekonomi dan karakteristik kompetitif dari sebuah perusahaan. Manajer harus mengidentifikasi aktivitas-aktivitas yang paling baik dari sumberdaya eksternal, serta mengetahui pengetahuan dalam ekonomi jangka panjang dan jangka pendek yang dihubungkan dengan keputusan melakukan outsourcing, insourcing atau co sourcing.

DAFTAR PUSTAKA

Adrianda A. 2010. Pengembangan sistem informasi melaluui outsourcing (keuntungan dan kelemahan dibandingkan insourcing). http://www.arlan.student.mb.ipb.ac.id [24 November 2010]

Akomode OJ, Less B, Irgens C. 1998. Cosntructing customised models and providing information for IT outsourcing decisions.J. of  Logistic Information Management 11(2), 114-127.

[BPKP] Badan Pengawas Keungan dan Pembangunan. 2007. Sistem Informasi Manajemen Edisi Keempat. Diklat Penjenjangan Auditor Ketua Tim. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pengawasan Badan Pengawas Keungan dan Pembangunan. pusdiklatwas.bpkp.go.id. [1 Desember 2010]

Dewanti, R. 2010. Introduction object oriented analysis & design. Bahan Mata Kuliah Aplikasi Komputer Program Pasca Sarjana, Universitas Gunadarma. Jakarta.

O’Brien JA. 2005. Introduction to Information System 12th ed. McGraw-Hill Companies, Inc.

McLeod RJ, Schell G. 2004. Management Information Systems 8th ed. New Jersey: Pretice Hall, Inc.

Mulyanto A. 2009. Sistem Informasi: konsep dan aplikasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.